Wisata Halal di NTB akan Terus Digaungkan

Lombok, NTB (foto: Jakarta Kita com)

MTN, Mataram – Wisata Halal di Nusa Tenggara Barat akan terus digaungkan oleh para pelaku industrinya. Seperti apa?

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi model pengembangan wisata halal atau ramah muslim (moslem friendly) di tanah air. Atas branding yang disematkan selama ini diharapkan dapat mendongkrak kunjungan wisatawan dalam maupun luar negeri.

“Wisata halal adalah ikhtiar dalam mendatangkan angka kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara ke NTB. Bahkan beberapa daerah juga sudah berkunjung ke Islamic Center untuk belajar tentang tata kelola wisata halal NTB,” ujar Sekretaris Dinas Pariwisata NTB, Lalu Hasbulwadi, yang dilansir dari Radar Lombok.

Diterangkannya, sebagaimana amanat yang tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 2 tahun 2016 tentang pariwisata halal, wisata halal NTB akan terus digaungkan bersama berbagai stakeholder terkait, agar target kunjungan wisatawan terpenuhi, tidak hanya wisatawan Muslim tetapi juga Non Muslim.

“Kita terus melakukan sosialisasi dan integritas dengan pihak stakeholder untuk mengembangkan konsep-konsep wisata halal ini sehingga diterima oleh semua pihak,” ucapnya.

Hasbulwadi menyebut upaya untuk menggaungkan wisata halal NTB tidak mudah, sehingga membutuhkan kerja sama antar semua pihak. Apalagi selama masa pandemi Covid-19 dua tahun belakangan, pariwisata NTB sempat tersendat dan mati suri. Karena pelaku pariwisata dan Pemerintah tidak bisa berbuat banyak untuk kebangkitan pariwisata NTB, terutama dalam memberikan sertifikasi usaha pariwisata yang berbasis sertifikasi halal. 

“Tahun-tahun berikutnya kita coba genjot kembali untuk mensertifikasi halal khusus usaha pariwisata. Mulai dari hotel sampai dengan tempat SPA memiliki sertifikasi halal. Sudah ada 2 ribuan usaha pariwisata serifikat berbasis halal,” jelasnya.

Hasbulwadi mengakui jika saat ini pihaknya tengah mengembangkan konsep wisata halal dengan mengintegrasi konsep CHSE pada seluruh usaha pariwisata dan friendly moeslim turisme. Hal ini karena tujuannya agar pariwisata halal di NTB semakin banyak dikenal oleh wisatawan. 

“Mungkin gaungnya tidak terlalu terdengar, tapi memang ini menjadi tugas semua pihak untuk menggaungkan wisata halal NTB,” pungkasnya.

Disbudpar Aceh Gelar Pelatihan Peningkatan SDM Wisata Halal

Disbudpar Aceh sedang memberikan pelatihan peningkatan SDM Wisata Halal (foto:

MTN, Aceh Selatan – Disbudpar Aceh gelar pelatihan peningkatan SDM wisata halal. Seperti apa?

Dilansir dari noa.co.id, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh gelar kegiatan pelatihan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) wisata halal untuk para pelaku wisata dan UMKM di Kabupaten Aceh Selatan, di Aula Hotel Pante Cahaya Tapaktuan Lt III, Selasa (15/11).

Kepala Bidang Pengembangan Usaha Pariwisata dan Kelembagaan (PUPK) Disbudpar Aceh, Dedek, mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui apa itu wisata halal serta meningkatkan SDM mereka.

Pelatihan yang diikuti 30 orang peserta pelaku usaha pariwisata, UMKM, serta dinas terkait ini, diharapkan bisa mengembangkan branding wisata halal yang ada di Kabupaten Aceh Selatan,” ujar Dedek.

Dalam pelatihan tersebut, sambung Dedek, pihaknya melibatkan pemateri dari Disbudpar Aceh, MPU Aceh Selatan, serta Dinas Syariat Islam.

“Tentunya dengan pelatihan ini kita berharap para pelaku usaha wisata bisa mengembangkan wisata halal dengan konsepnya, serta memberikan fasilitas pendukung seperti tempat shalat, serta makanan-makanan yang halal,” harap Dedek.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Aceh Selatan, Muchsin, menyampaikan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Selatan sangat mendukung kegiatan yang diselenggarakan oleh Disbudpar Aceh dalam meningkatkan SDM dalam sektor pariwisata yang ada di Aceh Selatan.

“Kepada para peserta yang melibatkan pelaku usaha wisata dan UMKM, agar dapat mengikuti pelatihan tersebut dalam peningkatan SDM wisata halal selama 3 (tiga) hari, sejak 15-17 November 2022,” ujarnya.

Terakhir, Muchsin berharap kepada para pelaku usaha wisata serta UMKM yang ada di Aceh Selatan agar dapat mengembangkan objek wisata yang halal sesuai dengan syariat islam serta kultural di Kabupaten Aceh Selatan.

Religion Youth Festival 2022 Dukung Wisata Halal Indonesia

Religion Youth Festival 2022 (foto: Kata Kini.com)

MTN, Jakarta – Acara Religion Youth Festival 2022 yang baru digelar di Jakarta (10-11 November 2022) dinilai bisa jadi highlight wisata halal Indonesia dengan melibatkan generasi muda. Seperti apa?

Dilansir dari IDXChannel, acara Religion Youth Festival 2022 dinilai bisa jadi highlight wisata halal atau muslim friendly di Indonesia, dan melibatkan peran generasi muda.

“Kegiatan ini didukung oleh kemenparekraf, memang ini tujuannya untuk meng-highlight wisata halal di Indonesia, yang juga di-highlight di forum G20,” ujar Presiden Organization of Islamic Cooperation (OIC) Youth Indonesia, Astrid Nadya Rizqita, dalam pembukaan Religon Youth Festival 2022 di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (10/11).

Dalam mendukung wisata halal di Indonesia, ujar Astrid, inisiatif anak-anak muda dimulai dengan pengadaan rumah ibadah di setiap wilayah destinasi wisata di Indonesia.

Sementara itu perwakilan Unsur Pemuda, Fadli menambahkan, adanya keberagaman agama dan budaya merupakan daya tarik tersendiri bagi pariwisata di Indonesia. Sehingga wisatawan mancanegara (wisman) akan kagum dengan perbedaan tersebut.

“Kalau kita bicara konteks tourism artinya kita mengundang orang luar untuk datang, dan mengundang menikmati hal-hal yang menarik. Dan keberagaman kita adalah kelayakan yang harus dipertahankan,” terangnya.

Religion Youth Fest 2022 merupakan sebuah penyelenggaraan acara inklusif kolaboratif yang menggabungkan antara ekosistem lintas agama, lintas golongan, lintas profesi, dan lintas komunitas. Tema yang diusung Religion Youth Fest 2022 adalah ‘Empower The Youth, Harmony the World’. 

Religion Youth Fest 2022 diselenggarakan secara luring di Aula Sakinah Masjid Sunda Kelapa, DKI Jakarta. Penyelengaraan acara Religion Youth Fest 2022 pada 10 hingga 11 November 2022 adalah momentum acara inklusif yang juga bertepatan pada momentum Religion (R-20) di Bali.

Peserta yang hadir di penyelenggaraan Religion Youth Fest 2022 pada 10 November hingga 11 November 2022 berjumlah lebih 100 Peserta, rata-rata berusia 16 sampai dengan 30 tahun, dengan karakteristik dari latar belakang aktivis, intelektual muda, relijius, aktif secara sosial dan organisatoris.

MUI Bangkalan Prioritaskan Program Wisata Halal

ilustrasi (foto: Valid News)

MTN, Bangkalan – Majelis Ulama Indonesia cabang Bangkalan (Madura) prioritaskan program industri halal dan wisata halal. Seperti apa?

Dilansir dari Jurnal 9, Dewan Pimpinan dan Pengurus Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bangkalan periode 2022-2027, telah resmi dilantik oleh Ketua MUI Jawa Timur. Pelantikan yang dihadiri Bupati Bangkalan.

Pelantikan dilaksanakan di Pendopo Dua Pemkab Bangkalan, dengan diawali pembacaan Surat Keputusan (SK), oleh bendahara MUI Jawa Timur, dan dibaiat atau diambil sumpah oleh KH Jazuli Noer. Prosesi tersebut mengesahkan kepengurusan MUI Bangkalan untuk masa khidmat 2022-2027.

Dalam sambutannya, ketua MUI Kabupaten Bangkalan, KH Makki Nasir menyerukan sinergitas ulama dan umaro dapat terjalin dengan baik, terutama dalam mempertahankan Kabupaten Bangkalan sebagai kota dzikir dan shalawat.

“MUI Bangkalan akan memprogramkan industri halal dan wisata halal, dengan membangun sinergitas dengan dinas terkait. termasuk memberikan jaminan keamanan terhadap masyarakat luar di kabupaten bangkalan,” jelas Ra Makki yang juga Ketua PCNU Kabupaten Bangkalan.

Sementara itu, Ketua Umum MUI Jawa Timur, KH M Hasan Mutawakil Alalllah, mengajak kepengurusan MUI bangkalan, untuk menjalankan peran yang telah didengungkan oleh MUI Jawa Timur. Di antaranya:

  1. MUI bangkalan harus menjadi mitra pembangunan di Kabupaten Bangkalan melalui instrumen keagamaan.
  2. Memberikan pelayanan sosial kemasyarakatan kepada umat, untuk memberikan solusi terhadap persoalan.
  3. Menjadi rujukan pemerintah dan masyarakat melalui hukum keagamaan, melalui fatwa MUI.

“Selain itu, MUI Bangkalan harus menjaga harmoni keagamaan dalam bingkai kebhinekaan, hal ini dinilai penting karena masyarakat Madura khususnya Bangkalan sangat sensitif terhadap isu SARA,” tegas Kiai Mutawakkil.

Lebih lanjut, Kiai Mutawakkil menyerukan agar MUI di bawah nakhoda Ra Makki mampu membawa masyarakat di Kabupaten Bangkalan menuju kesejahteraan melalui program-program yang dicanangkan. Seperti melalui program industri halal maupun wisata halal.

Wisatawan, Jangan Ragu Cari Tempat Ibadah dan Makanan Halal di Riau

Masjid Agung An-Nur, Pekanbaru, Riau (foto: www.masjid.asia)

MTN, Jakarta – Gubernur Riau berpesan kepada para wisatawan agar jangan ragu mencari tempat ibadah dan makanan halal di Riau.

Dilansir dari Go Riau, Provinsi Riau sudah terkenal dengan wisata halal. Hal tersebut lantaran tahun ini Riau telah berhasil memborong Anugerah Adinata Syariah.

Daerah yang dijuluki Bumi Lancang Kuning itu, mendapatkan tiga kategori penghargaan yakni, kategori Ekonomi Hijau dan Berkelanjutan, Keuangan Syariah, dan kategori Industri Halal.

“Bagi tamu-tamu muslim yang datang ke Bumi Lancang Kuning tidak perlu khawatir untuk mencari tempat ibadah dan makanan halal,” ujar Gubernur Riau, Syamsuar, diwakili Asisten I Setdaprov Riau, Masrul Kasmy, saat menyambut baik kedatangan rombongan tamu Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) yang berasal dari Pattani Thailand.

Kegiatan penyambutan ini dilaksanakan di Aula Gedung Dharma Wanita, Jalan Diponegoro, Kota Pekanbaru, pekan lalu (20/10).

“Riau selalu mengutamakan destinasi wisata halal. Kalau saudara-saudara berkeliling ke Riau, banyak sekali tempat ibadahnya dan ragam makanan-makanan yang ditemukan, itu tentu saja dijamin halal,” jelasnya.

Ditambahkannya, Riau sangat membuka kehadiran siapapun yang datang ke Provinsi Riau. Apalagi yang berkaitan dengan kegiatan dakwah.

Kehadiran rombongan DMDI, tambahnya, dapat memiliki dampak positif untuk membangun hubungan silaturahmi antar negara tetangga, sekaligus bisa mengenalkan destinasi pariwisata Provinsi Riau.

“Pertemuan ini tentunya mempunyai makna yang besar dalam membangun silaturahmi dan marwah antar negara bertetangga. Bagi kami kunjungan saudara-saudara tersebut juga dapat menjadi wadah untuk memperkenalkan objek-objek wisata di 12 Kabupaten/Kota Provinsi Riau,” ujarnya.

Pertemuan ini, ujar Masrul, sekaligus dapat menjalin hubungan budaya dan adat istiadat termasuk menjalin kerja sama sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

MUI Akan Kembangkan Kampung Wisata Halal di Bangka

kampung halal di Bangka Belitung (foto: Zona Halal)

MTN, Jakarta – Majelis Ulama Indonesia (MUI) berencana kembangkan kampung wisata halal di Bangka. Seperti apa?

Dilansir dari Antara News, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tengah mengembangkan kampung pangan halal di Kabupaten Bangka, untuk dipersiapkan menjadi kampung wisata halal.

Direktur Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Makanan (LPPOM) MUI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Nardi Pratomo, mengatakan kampung pangan halal yang diproyeksikan menjadi kampung wisata halal ini diharapkan akan menjadi daya tarik tersendiri.

Nardi menargetkan pada tahun 2023, pengembangan kampung pangan halal menuju wisata halal sudah dibentuk di Kabupaten Bangka, yang kemudian akan dilanjutkan dengan program pengembangan yang sama di daerah lain, di Bangka Belitung.

“Kami berharap nanti ada pemerintah desa di Kabupaten Bangka yang siap dan berminat untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata halal, karena diketahui potensi wisata di Kabupaten Bangka cukup banyak,” jelas Nardi.

Menurut Nardi Pratomo, saat ini kampung pangan halal terdapat di salah satu desa di Kabupaten Bangka Tengah, dan akan dikunjungi Sekolah Tinggi NHI selama satu bulan.

“Konsep kampung pangan halal (adalah) di mana semua makanan yang dijual untuk wisatawan memiliki sertifikat halal dan kalaupun ada yang tidak halal harus dipisahkan,” jelasnya.

Begitu pula kampung wisata halal, terang Nardi, bukan merupakan pengembangan Islamisasi, melainkan wisata yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana ibadah seperti mushola, tempat wudhu, dan fasilitas lain.

Staf Ahli Bupati Bangka Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kabupaten Bangka, Muhammad Jumani, memberikan apresiasi untuk pengembangan kampung pangan halal dan kampung wisata halal di daerah tersebut oleh MUI.

“Program ini cukup baik dikembangkan karena wilayah Kabupaten Bangka memiliki banyak potensi wisata yang tersebar di sejumlah wilayah kecamatan atau desa,” ujar Jumani.

Muhammad Jumani mengatakan, program pengembangan wisata halal dapat membentuk kesadaran dan pola pikir masyarakat mengenai wisata halal dengan konsep pemberdayaan masyarakat sebagai pelaku usaha sehingga mampu menarik wisatawan.

Kampung pangan halal dan kampung wisata halal diharapkan segera terwujud dengan melibatkan semua elemen masyarakat yang mayoritas Muslim.

Mengangkat Jakarta Sebagai Destinasi Wisata Halal Dunia

ilustrasi (foto: Tribun Travel)

MTN, Jakarta – Kota Jakarta bisa dibilang juga menawarkan banyak sekali pilihan bagi para wisatawan muslim. Festival dan Konferensi Wisata Halal 2022 yang baru selesai digelar pun diharapkan dapat mengangkat pamor Jakarta sebagai destinasi wisata halal.

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (Jakarta Islamic Centre) bekerja sama dengan NanoEdu Cheria yang didukung oleh Asosiasi Travel Halal Indonesia (ATHIN), Cheria Holiday, dan Halal Travel Konsorsium (HTK) menyelenggarakan Festival dan Konferensi Wisata Halal 2022.

Acara yang dilaksanakan di Cempaka Ball Room, Hotel Grand Cempaka Business Jakarta ini dihadiri oleh Sandiaga Uno (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), Anies baswedan (Tokoh Jakarta), KH M. Subki (Ketua JIC), Edi Sukardi (Tokoh Betawi), Nurul Taufiqu R (Komut Travelearn), dan Cheriatna (CEO Cheria Holiday).

Festival dan Konferensi ini dibagi menjadi beberapa rangkaian acara yang berlangsung selama tiga hari dari tanggal 28 sampai 30 Oktober 2022. Adapun rangkaian acaranya yaitu hari pertama akan dilaksanakan Gala Dinner yang dimulai dari pukul 17.00 sampai 22.00 WIB. Hari kedua akan diselenggarakan konferensi, temu bisnis, dan tabletop, dan di hari ketiga akan melakukan kunjungan wisata ke Pulau Seribu.

Acara ini akan dihadiri lebih dari 500 audiens yang mencakup berbagai segmen dari perwakilan dinas pemerintahan, dinas pariwisata, para pebisnis, agensi, dan para pelaku wisata. Acara ini merupakan event kelima kalinya Festival dan Konferensi Wisata Halal yang dilaksanakan oleh NanoEdu Cheria.

Event ini merupakan inovasi dari acara yang telah diselenggarakan oleh NanoEdu Cheria di beberapa tahun ke belakang yang sempat terhenti karena adanya Covid-19 di Indonesia.

Dilansir dari Republika, dengan mengangkat Potensi Jakarta sebagai Tujuan Wisata Halal Dunia, acara ini dilakukan secara B2B (Business to Business) dengan tujuan mengembangkan potensi kota Jakarta sebagai salah satu destinasi wisata halal di dunia.

Jakarta saat ini adalah salah satu kota besar yang maju dan banyak menyediakan berbagai fasilitas ramah muslim yang lengkap dengan ratusan restoran bersertifikat halal di Jakarta. Atmosfer ini memberikan kenyamanan bagi wisatawan muslim untuk berwisata tanpa perlu khawatir. Terlebih dengan perkembangan wisata halal di Indonesia yang telah diakui oleh dunia sebagai peringkat pertama Wisata Halal Terbaik di Dunia versi Global Muslim Travel Index (GMTI).

“Jakarta layak menjadi pusat pengembangan dan kolaborasi wisata halal di Indonesia karena Jakarta memiliki banyak objek wisata dan objek keagamaan,” tutur tokoh Betawi, Edi Sukardi.

Dia menambahkan pascapandemi Covid-19, ghirah dan ghairah para wisatawan melakukan perjalanan mulai meningkat lagi. Festival ini ditargetkan dapat mendorong masuknya 10 juta wisatawan yang datang ke Jakarta untuk menikmati wisata halal.

Jakarta Islamic Centre (JIC) sebagai lembaga pengkajian dan pengembangan Islam di Jakarta merasa penting untuk terlibat dalam pembangunan dan peningkatan wisata halal di Jakarta. Ini karena JIC tidak hanya sebagai masjid atau pusat ibadah tetapi juga sebagai pusat mualamah.

Kepala JIC, M. Subki, menuturkan JIC memiliki visi sebagai pusat peradaban agama Islam dengan lingkup kerja tidak hanya di Jakarta tapi juga di Indonesia. `“Hadirnya JIC dalam pengembangan wisata halal dunia ini diharapkan dapat mengangkat JIC agar dikenal luas dan berdiri sejajar dalam bentang peradaban Islam dunia. Dan mitra untuk mewujudkan hal tersebut salah satunya NanoEdu Cheria melalui event Festival dan Konferensi Wisata Halal Dunia ini,” tegas M. Subki.

NanoEdu Cheria adalah educational start up yang mempunyai visi untuk menyebarkan pendidikan cerdas berbasis riset dan teknologi kepada seluruh siswa, guru, pelaku pendidikan, dan siapa pun yang mau terus belajar. Dengan visi democratize smart education for all, Nanoedu Cheria mendorong setiap siswa-siswi yang didampingi untuk dapat menghasilkan satu inovasi bagi Indonesia.

Potensi Wisata Muslim di Solo

Masjid Raya Sheikh Zayed, Solo (foto: mettanews.id)

MTN, Jakarta – Tahun 2022 ini sepertinya peluang kota Solo di industri wisata halal menjadi lebih besar, karena ada banyak upaya yang dilakukan.

Dilansir dari Antara, pihak ITMA (Indonesian Tour Leader Moslem Association) DPD Jawa Tengah akan menggarap potensi wisata sejarah Islam di kota Solo, seiring dengan tingginya permintaan wisata halal oleh masyarakat.

“Kalau di Soloraya ada paket (wisata) keraton, masjid. Di Solo konsennya wisata sejarah Islam, di keraton ada jejak sejarah Islam. Di Solo juga ada masjid tertua di Laweyan, itu kan sejarah bisa jadi paket wisata,” ujar Ketua ITMA DPD Jawa Tengah, Rochmad Sugiarto.

Rochmad Sugiarto mengatakan ITMA diharapkan bisa menjadi wadah bagi pelaku jasa wisata muslim untuk lebih optimal menggarap wisata halal.

“Bukan hanya dari sisi turnya tetapi juga memperhatikan tentang kehalalan tur, makanan, destinasi, termasuk (kemudahan wisatawan) ketika berhenti untuk salat,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Dewan Kode Etik ITMA Setyo Legowo mengatakan secara umum wisata halal di Jawa Tengah sangat menjanjikan.

“Didukung dengan beberapa destinasi wisata, berkaitan dengan ziarah yang sekarang diminati oleh kaum milenial,” katanya.

Terkait perjalanan wisata tersebut, saat ini sudah ada paket wisata halal di antaranya Semarang, Kudus, dan Demak. “Ini jadi market kami untuk jual paket wisata halal yang didukung dengan makanan halal,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum ITMA, Iman Kadarisman, mengatakan saat ini pemerintah sudah meluncurkan Pelaku Pariwisata Halal Indonesia (PPHI). “Ini terobosan yang luar biasa. Lucu kalau Indonesia sebagai negara muslim di dunia tetapi tidak bicara halal,” katanya.

Untuk mengoptimalkan pasar tersebut, saat ini pihaknya juga sudah menggandeng Ikatan Pesantren Indonesia yang jumlahnya mencapai 27.973 pesantren.

Sementara itu, Wakil Menteri BUMN I, Pahala Nugraha Mansury, ingin agar Indonesia melalui sektor kuliner halalnya dapat menjadi Dapur Halal Global atau The World Halal Kitchens.

Menurut Wakil Menteri BUMN I, Pahala Nugraha Mansury, upaya menjadikan Indonesia sebagai Dapur Halal Global bisa dimulai dengan membangun ekosistem kuliner halal yang berada di Kampung Batik Kauman Solo, Jawa Tengah.

“Tetapi tentunya hal ini diharapkan bisa dikembangkan di wilayah-wilayah lainnya sehingga nantinya kawasan industri halal yang berada di Surakarta tersebut secara keseluruhan bisa menjadi salah satu model untuk kota wisata halal di dunia,” ujarnya.

Seperti diketahui bahwa ekonomi syariah merupakan sebuah peluang yang bernilai multi triliunan dolar AS, bukan hanya di Indonesia tetapi juga secara global dimana tingkat spending umat Muslim di dunia bisa mencapai hingga 1,9 triliun dolar AS dan kurang lebih sekitar 60 persennya merupakan sektor makanan dan minuman halal.

Di samping itu, sektor kawasan makanan dan minuman juga merupakan salah satu yang sangat besar di Indonesia dimana 36,4 persen dari PDB Indonesia itu dikontribusikan oleh sektor makanan dan minuman.

Dilansir dari Tempo, Wamen BUMN melihat hal ini merupakan potensi yang harus dikembangkan. Terutama dimulai dari kawasan kuliner halal di Kauman, Solo, Jawa Tengah yang diharapkan juga bisa dikembangkan ke wilayah-wilayah lainnya.

Pengembangan kawasan halal makanan dan minuman di Kauman Solo, diharapkan bisa menjadi salah satu model untuk bisa diimplementasikan di kawasan-kawasan lainnya.

Kemudian, di Solo akan segera diresmikan Masjid Raya Sheikh Zayed. Masjid ini berlokasi di bekas Depo Pertamina, Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Solo. Masjid ini didirikan sebagai simbol persahabatan antara Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA).

Dilansir dari Kompas, Masjid Raya Sheikh Zayed ini merupakan hibah dari Putra Mahkota Uni Emirat Arab, Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, untuk Presiden Joko Widodo.

“Masjid yang punya nilai sejarah kontemporer ini akan didedikasikan kepada seluruh umat Islam dan dikelola oleh Pemerintah RI. Masjid ini insya Allah akan membawa manfaat yang besar kepada masyarakat,” ujar Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, saat peletakan batu pertama pembangunan Masjid Raya Sheikh Zayed, pada 6 Maret 2021.

Menurut Yaqut, Masjid Raya Sheikh Zayed diharapkan menjadi salah satu mercusuar syiar Islam di Nusantara, sekaligus simbol moderasi beragama dalam rangka mewujudkan perdamaian dunia dan keadilan sosial.

Ke depannya, masjid yang dibangun dengan hibah penuh dari putra mahkota UEA itu diproyeksikan tak hanya menjadi tempat shalat berjemaah, tetapi juga berfungsi menjadi pusat kegiatan dakwah, sosial dan pembinaan umat, serta destinasi wisata religi.

Menteri Energi dan Industri UEA, Suhail Mohammed Al Mazroui, mengatakan, Pemerintah UEA berupaya agar bangunan masjid di Solo tersebut mendekati masjid aslinya di Abu Dhabi, UEA.

“Seperti kita ketahui bersama bahwa masjid itu merupakan simbol dari arsitektur yang begitu istimewa, bukan hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga menjadi destinasi wisata. Masjid yang dibangun di sini bukan hanya mencerminkan ketinggian dari arsitektur bangunan tetapi juga bisa menjadi sumber devisa,” ucapnya.

Di sekitar kompleks masjid akan dibangun Islamic Center. Tempat tersebut diharapkan bisa menjadi pusat pendidikan dan pengajaran Islam.

Dalam Islamic Center akan didirikan Taman Pendidikan Al Quran (TPA), tempat tafsir Al Quran, madrasah, dan tempat pengembangan ekonomi syariah yang menjual produk-produk halal market.

Memiliki luas bangunan utama sekitar 8.000 meter persegi, Masjid Raya Sheikh Zayed mampu menampung hingga 10.000 orang jemaah.

Adapun fasilitas Masjid Raya Sheikh Zayed antara lain ruang VIP, perpustakaan seluas 20 meter persegi, dan basemen yang diperuntukkan sebagai tempat wudu jemaah putra dan putri.

Masjid Raya Sheikh Zayed Solo rencananya akan diresmikan pada 17 November 2022.

Peresmian rencananya dihadiri Presiden Joko Widodo dan Putra Mahkota UEA, Sheikh Mohamed Bin Zayed Al Nahyan.

MUI Dapat Dukungan Penuh Kembangkan Kampung Wisata Halal di Bangka

Bangka Belitung (foto: /islamic-center.or.id)

MTN, Jakarta – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mendukung rencana pengembangan kampung wisata halal oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Babel. Seperti apa?

“Kami mendukung rencana pengembangan kampung wisata halal oleh MUI karena selaras dengan program pemerintah daerah dalam mengembangkan desa wisata dan pariwisata,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Rismy Wira Maddona di Sungailiat.

Dilansir dari Antara News, menurut Rismy pengembangan pariwisata halal tidak terlepas dari di bangunnya desa wisata halal yang bertujuan untuk membentuk masyarakat yang memahami dan sadar mengenai adanya potensi pariwisata halal serta menerapkan pola pikir masyarakat tentang wisata halal.

Rismy menilai dalam konsep pariwisata halal yang paling utama adalah memberdayakan masyarakat agar dapat berperan sebagai pelaku langsung dalam upaya meningkatkan kesiapan dan kepedulian dalam menyikapi potensi pariwisata atau lokasi daya tarik wisata d iwilayah masing-masing desa yang mengacu pada Pariwisata Halal.

“Tujuan pariwisata halal yang mempertimbangkan nilai-nilai dasar umat Muslim di dalam penyajian mulai dari akomodasi, restoran, hingga aktifitas wisata yang memberikan rasa aman dan nyaman betul – betul dapat dirasakan oleh wisatawan itu sendiri,” ungkapnya.

Pengembangan pariwisata bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, namun juga harus mendapat dukungan dan sinergi berbagai pihak yakni pemerintah, pengusaha, pengelola objek wisata, masyarakat dan pelaku kepentingan yang lain.

Sinergi harus terus diperkuat mengingat keberhasilan dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata tidak pernah menjadi klaim sepihak yang tentunya mendorong pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan.

Pantai Paal, “Pantai Halal” di Sulawesi Utara

Pantai Paal, Likupang, Minahasa Utara, Sulawesi Utara (foto: celebes.co)

MTN, Jakarta – Pantai Paal yang berlokasi di desa Marinsow, Likupang, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, disebut-sebut sebagai “pantai halal”. Seperti apa?

Dilansir dari Detik, di akhir pekan, pantai eksotis Paal bisa didatangi oleh lebih dari seribu wisatawan. Saking ramainya, parkiran pantai bisa penuh sesak dengan mobil dan bus.

Pantai Paal dulunya adalah kawasan hutan yang dibuka khusus untuk menopang Likupang sebagai Kawasan Ekonomi Kreatif (KEK) dan Lima Destinasi Super Prioritas.

Fasilitas yang diberikan untuk pantai ini pun lengkap, mulai kamar mandi sampai tempat makan. Makanan yang dijual pun halal.

“Semua makanan yang dijual halal, pengunjung bisa memilih sendiri ikan yang mau dibakar dan memasaknya sendiri,” ucap Marneks Masambe, seorang warga yang juga adalah anggota limas di Pantai Paal.

Masambe mengatakan bahwa pengunjung tidak boleh membawa makanan dari luar. Karena Pantai Paal dijaga agar tetap bersih dari makanan non halal, seperti babi.

“Di sini juga tidak boleh bawa minuman alkohol,” jelasnya.

Masambe bercerita bahwa dulu ada beberapa masalah yang timbul karena pengunjung membawa alkohol. Mereka mabuk dan membuat ribut.

“Waktu itu pernah ada pelajar dari Manado mabok di sini. Dikejar sama warga sampai akhirnya tidak lagi diperbolehkan bawa minuman alkohol,” ungkapnya.

Pantai Paal jga tidak memperbolehkan wisatawannya untuk menginap. Jadi pengunjung hanya bisa datang mulai pagi hingga pukul 19.00 WITA.

“Jam 5 sore sudah tidak boleh berenang, karena sudah tidak ada petugas pantai. Setengah 7 malam masih boleh duduk di pantai. Intinya keamanan,” pungkasnya.

Untuk masuk ke kawasan ini, traveler hanya dikenakan biaya masuk kendaraan sebesar Rp 40 ribu untuk mobil dan Rp20 ribu untuk motor.