Situbondo Berpotensi Jadi Destinasi Wisata Halal

Situbondo (foto: inilah.com)

MTN, Jakarta – Situbondo “Kota Santri” berpotensi jadi destinasi wisata halal. Seperti apa?

Dilansir dari Republika, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, menggagas event atau kegiatan konferensi internasional wisata religi di Situbondo, Jawa Timur, yang mengundang minimal tujuh negara.

Ketujuh negara undangan tersebut adalah: Turki, Uzbekistan, Malaysia, Brunei, Singapura, Maroko, dan satu lagi negara di Eropa.

“Kami menginginkan agar segera dipersiapkan event tersebut. Di sini kami sebagai tuan rumah, karena selain jumlah santrinya mencapai 17 ribu orang, kita bisa tingkatkan (potensi) mereka agar bisa menerima wisatawan baik, dalam maupun luar negeri yang ingin berwisata religi di sini,” ujar Sandiaga, saat meresmikan pembangunan Kawasan Wisata Religi Sukorejo di sekitar Pondok Pesantren Salafiyah Syafiyah di Situbondo, Jatim (15/1).

Dalam kesempatan itu, Menparekraf mengharapkan pembangunan Kawasan Wisata Religi Sukorejo bisa menjadi venue konferensi internasional wisata religi.

Pihaknya juga akan membuatkan peta perjalanan yang nanti salah satu perhentiannya ada di Sukorejo atau tempat wisata religi tapal kuda, yang menjadi branding kawasan wisata religi.

“Kita juga ingin kelengkapan-kelengkapan yang ada di Pondok terus meningkat sehingga menarik pergerakan ekonomi dan masyarakat dapat merasakan langsung maka tercipta peluang usaha dan lapangan kerja,” ucap Sandiaga.

Pembangunan kawasan wisata religi Sukorejo merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pengurus pondok pesantren Salafiyah Syafiyah, yang menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) 2022.

Setelah 18 bulan berlalu pasca-Menparekraf menggagas Kawasan Wisata Religi Sukorejo, akhirnya pemerintah setempat mengeksekusi gagasan tersebut.

“Karena kawasan wisata religi tahap pertama ini sudah rampung dan sudah kita resmikan, nanti juga akan ada tahap-tahap selanjutnya. Saya melihat peluang untuk menggabungkan wisata religi yang ada di Indonesia dengan wisata religi yang justru selama ini masyarakat Indonesia lebih banyak kunjungi di luar negeri,” ujar Sandiaga.

Dipuji Menparekraf, Sumbar Siap Dikembangkan untuk Pariwisata Halal

Jam Gadang di Sumatera Barat (foto: Cheria Travel)

MTN, Jakarta – Sumatera Barat siap dikembangkan untuk industri pariwisata halal. Seperti apa?

Dilansir dari Suara Sumbar, menurut Menparekraf Sandiaga Uno, destinasi wisata halal di Indonesia akan ditingkatkan dari segi kesiapan layanan kuliner dan akomodasi halal. Kemudian, juga bakal dikembangkan ekosistem ekonomi syariah mulai dari pelatihan, pendampingan, pemasaran, logistik, dan pembiayaan.

“Kemenparekraf juga akan memberikan layanan tambahan bagi wisatawan, seperti halal package, halal food, halal hotel, halal finance dan transportasi,” ujar Sandiaga, di Jakarta (30/1).

Sejumlah provinsi sudah menyampaikan ketertarikan terhadap pengembangan pariwisata halal. Di antaranya; Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Barat, Kepulauan Riau, Sumatera Barat dan Aceh.

Sandiaga Uno juga menyatakan bahwa Sumbar benar-benar daerah yang ‘beautiful’ alias cantik. Sumbar memiliki budaya dan desa wisata yang memukau. “Sumbar itu kulinernya enak, budayanya khas, dan alamnya indah. Bahkan ada satu desa wisata yang disebut sebagai yang terindah di dunia. Tidak rugi bila berwisata ke Sumbar,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sumbar, Audy Joinaldy, mengungkapkan kalau Visit Beautiful West Sumatera 2023 adalah program yang ditujukan untuk mengembalikan jumlah kunjungan wisatawan ke provinsi itu.

Audy menyebut sebelum pandemi Covid-19, jumlah kunjungan wisatawan ke Sumbar mencapai 8,2 juta orang. Setengahnya berkurang pada saat pandemi melanda.

“Target kita tidak muluk-muluk. Untuk langkah awal bagaimana angka 8,2 juta wisatawan itu bisa kembali pada tahun 2023,” katanya.

Untuk mencapai target itu, Pemprov Sumbar bersama kabupaten/kota sudah meluncurkan 77 buah program event untuk bisa menarik wisatawan ke daerah itu.

Selain itu, persoalan tiket pesawat yang masih relatif mahal juga dicarikan solusi dengan menjalin komunikasi dengan berbagai maskapai agar bisa membuka penerbangan ke Sumbar.

“Kita berharap semua upaya ini bisa mendorong agar target 8,2 juta wisatawan itu bisa kembali tercapai,” pungkasnya.

Parisata Halal Indonesia 2023 Fokuskan pada Wisata Masjid

Masjid Istiqlal (foto: mediaindonesia.com)

MTN, Jakarta – Wisata masjid jadi fokusnya agenda pariwisata halal Indonesia untuk tahun 2023. Seperti apa?

Dilansir dari Kompas, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno, mengatakan bahwa pihaknya tengah mengembangkan wisata minat khusus berbasis masjid.

“Kami sudah membentuk tim kecil bersama para stakeholders, kami ingin mengembangkan wisata minat khusus berbasis masjid,” ujar Menparekraf di Jakarta (30/1).

Sandiaga melanjutkan, wisata minat khusus ini akan menjual pengalaman unik untuk para wisatawan, karena aktivitasnya berupa mengunjungi masjid-masjid di Indonesia.

“Aktivitas wisata mengunjungi masjid-masjid di Indonesia diharapkan tidak hanya dinikmati oleh wisatawan muslim saja, namun juga seluruh wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara,” imbuhnya.

Apalagi, ujar Menparekraf, pariwisata seharusnya memang bersifat inklusif, bukan eksklusif.

Tahun ini, Menparekraf juga menyampaikan, fokus dari pemerintah khususnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), adalah untuk meningkatkan rating pariwisata halal Indonesia di mata dunia. Salah satu caranya dengan memberikan tambahan layanan atau extension of service.

Menurutnya Sandiaga, destinasi wisata halal di Indonesia masih bisa terus ditingkatkan dari segi kesiapan layanan kuliner, tempat ibadah, akomodasi, dan sistem ekonomi syariah.

“Jadi (contoh) extendend service ini misalnya ada halal tour package (paket wisata halal), halal food (makanan halal), halal hotel, halal finance (platform keuangan halal), dan halal-halal lainnya,” tutur Menparekraf.

Sandiaga menyebutkan, hal ini patut dihadirkan sebagai upaya penyediaan atau pelayanan bagi wisatawan untuk melakukan kegiatan ibadah maupun kebutuhan sehari-hari.

Adapun hingga saat ini, sudah ada beberapa provinsi unggulan yang mengembangkan wisata halal, antara lain adalah: Sumatera Barat, Aceh, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, dan Madura.

Pantai Piayu Laut di Batam Diusulkan jadi Pusat Wisata Kuliner Halal

Pantai Piayu Laut, Batam, Kepulauan Riau (foto: emerer.com)

MTN, Batam – Pantai Piayu Laut di Batam diusulkan jadipusat wisata kuliner halal. Seperti apa?

Dilansir dari sijoritoday.com, Kepala Dinas Pariwisata Kepulauan Riau, Raja Heri Mokhrizal, merespon usulan Pantai Piayu Laut, Kecamatan Sei Beduk, Kota Batam menjadi pusat wisata kuliner halal oleh Ketua Komisi II DPRD Kepri, Wahyu Wahyudin.

Menurutnya Heri, Pantai Piayu Laut memang memiliki nilai jual yang cukup tinggi dengan pemandangan nan eksotis dan air laut yang bersih.

Selain itu, pengunjung Pantai Piayu Laut juga dimanjakan dengan pemandangan Jembatan I dan II Barelang, serta kapal yang lalu lalang dari Pelabuhan Punggur menuju Kota Tanjungpinang.

“Kita mencoba melakukan destinasi kawasan wisata halal seafood untuk diusulkan ke Kemenparekraf,” katanya usai berkunjung ke Pantai Piayu Laut, Senin (23/1).

Heri menuturkan, penetapan Piayu Laut sebagai pusat wisata kuliner akan menarik minat pengunjung sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Selain penjaja kuliner seafood, sekitar 200 orang nelayan juga akan menerima manfaat langsung sebagai penyuplai bahan baku makanan seafood.

“Dengan adanya destinasi halal seafood itu kita berharap meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar,” tutur Heri.

Dengan menjadikan Pantai Piayu Laut sebagai destinasi wisata kuliner halal, infrastruktur pendukung seperti akses jalan, lampu penerangan, dan air bersih akan menjadi perhatian pemerintah.

Heri pun memuji Wahyu Wahyudin yang selama ini menyampaikan terobosan-terobosan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

Ia berharap, Wahyu menjadi sosok inspiratif bagi Pemerintah Kabupaten/Kota dan Anggota DPRD lainnya untuk berlomba-lomba mengusulkan kegiatan peningkatan taraf hidup masyarakat.

“Pak Wahyu ini kan peduli dengan Dapilnya, teman-teman yang ada di dewan seharusnya melakukan hal yang sama,” tambahnya.

Pantai Piayu Laut berlokasi di Terusan Jl. S. Parman, Tj. Piayu, Kec. Sei Beduk, Kota Batam, Kepulauan Riau.

Menengok Pusat Kuliner Nusantara Halal di Papua

Al Akbar Food Festival di Sorong, Papua (foto: papuabaratpos.com)

MTN, Sorong – Kini telah hadir pusat kuliner nusantara halal yang berlokasi di Papua, yang bernama Al Akbar Food Festival (AFF). Seperti apa?

Dilansir dari sorongnews.com, Al Akbar Food Festival (AFF) resmi dikenalkan ke publik oleh Penjabat Gubernur Papua Barat Daya, yang diwakili oleh Kepala Bapeda Provinsi Papua Barat Daya, Rahman, di areal Masjid Al Akbar Kota Sorong, Sabtu (28/1).

Dalam sambutannya, Rahman mengatakan bahwa salah satu program prioritas Pj Gubernur Papua Barat Daya adalah PBD Produktif. Keberadaan AFF menjadi salah satu upaya pengembangan UMKM yang produktif dalam pemulihan ekonomi pasca dihantam badai COVID-19 selama dua tahun.

“Apalagi saat ini memasuki resesi ekonomi dan inflasi. Oleh karenanya keberadaan AFF ini bisa menjadi salah satu upaya menekan laju inflasi, karena kebutuhan akan makan dan minum di daerah ini juga cukup tinggi. Kami optimis, dengan dukungan pengusaha UMKM serta masyarakat akan berdampak baik bagi perekonomian keluarga, Masjid dan daerah,” ujar Rahman.

Ia menambahkan bahwa legalitas AFF telah memenuhi persyaratan dan dalam waktu dekat akan mendukung dalam sertifikasi kesehatan, kelayakan dan kebersihan oleh instansi teknis dan menggandeng MUI untuk kehalalannya.

Rahman berharap sentra pertumbuhan wisata kuliner di wilayah Papua Barat Daya bisa terus berkembang.

Sementara itu, Manager operasional AFF, Toto, mengatakan bahwa tujuan keberadaan AFF ini adalah untuk menumbuhkan sosial enterpreuner sekaligus memadukan sosial digital dalam mendukung kesejahteraan umat, mendongkrak perekonomian dan tentunya berdampak pada kemaslahatan masjid.

Adapun jumlah lapak yang saat ini berada di AFF 1 berjumlah 12 stand yang sudah penuh diisi pelaku usaha dan telah berdagang selama sebulan dan di AFF 2 yang sedang dibangun ada sekitar 13 stand.

“Setelah soft launching sebulan lalu, rata-rata omset sekitar 1 juta rupiah per hari. Di mana selain ada keuntungan bagi pengusaha, 2,5 persen total omset bulanan disumbangkan untuk pembangunan masjid Al Akbar yang masih berjalan,” ujar Toto.

Dengan biaya sewa stand yang tidak memberatkan, antusias pengusaha yang mengisi AFF juga tak sedikit. Dimana 13 stand tambahan pun sudah full booked. Kedepannya, Toto mengatakan bahwa AFF ini akan menjadi salah satu tempat wisata kuliner nusantara yang Halal dan Toyib bagi siapa saja yang menghabiskan waktunya disana.

Terlihat sejumlah warga mulai menjadikan AFF sebagai salah satu tujuan wisata kuliner, karena berbagai menu nusantara dari Aceh hingga Papua tersaji di sana dengan harga merakyat.

Kota Sorong adalah ibukota provinsi Papua Barat Daya, Indonesia. Sorong adalah kota terbesar kedua di Papua, setelah Kota Jayapura.

Melihat Wisata Halal di Cirebon

Masjid Cipta Rasa Keraton Kasepuhan, Cirebon (foto: alif.id)

MTN, Jakarta – Wisata Cirebon halal merupakan wisata yang memberikan dan menyajikan rasa kenyamanan dan ketenangan untuk wisatawan umat Muslim. Seperti apa wisata halal di Cirebon?

Wisata halal ini bukan tentang agama atau keyakinan tetapi wisata halal Cirebon ini untuk mencoba memenuhi kebutuhan kebutuhan wisatawan muslim, terutama terkait makanan halal yang bisa dikonsumsi wisatawan Muslim dan fasilitas ibadah sholat yang nyaman.

Tetapi objek wisata halal Cirebon tidak hanya bisa menarik kunjungan wisatawan muslim saja, melainkan turis wisata non-muslim dari berbagai wilayah juga bisa berkunjung ke Wisata Halal ini.

Dilansir dari Radar Cirebon, wilayah Cirebon terdapat banyak destinasi wisata yang masih erat dengan proses penyebaran agama Islam oleh Sunan Gunung Jati. Wisata Cirebon menjadi salah satu lokasi Wisata halal dari banyaknya daerah di Indonesia. Masjid Cipta Rasa Keraton kasepuhan menjadi salah satu wisata halal Cirebon.

Selain Masjid Cipta Rasa Keraton Kasepuhan, masih ada 20 masjid lainnya yang nantinya akan menjadikan wisata halal Cirebon semakin menarik wisatawan untuk berwisata sambil mengetahui sejarah mengenai peradaban Islam.

Wilayah Cirebon juga berpotensi besar untuk berkembangnya wisata halal bidang kuliner, cirebon memiliki banyak menu dan olahan makanan halal yang bisa menjadi pilihan bagi wisatawan turis non-muslim, yang tentunya itu bisa menjadi daya tarik wisatawan lebih luas lagi.

Dalam mengelola wisata halal ini, tentunya harus ada persiapan yang sangat matang dari segi infrastruktur untuk akomodasi seperti, tempat ibadah, hotel atau penginapan. Agar semua wisatawan merasa nyaman untuk berwisata halal di Cirebon.

Selain akomodasi, perlu juga untuk mengubah pola fikir masyarakat agar memahami pontensi berkembangnya Cirebon.

Adanya wisata halal ini juga semoga bisa membantu dalam memperdayakan perekonomian masjid khususnya di Cirebon. Karena Cirebon berpotensi untuk berkembangnya wisata halal ini.

Land Of Wakaf Teras, Objek Wisata Halal Berbasis Wakaf di Lembang

Land Of Wakaf Teras (foto: dnewsstar.com)

MTN, Jakarta – Kini di Lembang, Bandung, ada objek wisata halal berbasis wakaf yang bernama Land Of Wakaf Teras. Seperti apa?

Dilansir dari Republika, Sinergi Foundation menginisiasi sebuah kawasan wisata halal berbasis wakaf berlokasi di Lembang, Jawa Barat, tepatnya di Jalan Tangkuban Parahu Km 17, persis di depan Hotel Puteri Gunung. Kawasan wisata tersebut dinamakan Land Of Wakaf Teras Lembang.

Land Of Wakaf Teras Lembang didirikan di atas tanah wakaf dari keluarga Mashudi, Mantan Gubernur Jawa Barat era tahun 1960-1970.

Tanah wakaf tersebut lantas menjadi kawasan dengan berbagai tawaran wisata di dalamnya yang dikembangkan oleh Sinergi Foundation selaku nadzhir (pihak pengelola wakaf).

Land Of Wakaf Teras Lembang menyajikan beberapa spot wisata halal bagi para pengunjung, di antaranya: Arena Pacu Kuda dan Berpanah, Camping Ground, Kebun Strawberry, Kebun Anggrek, Kebun Pakcoy, Kedai Makanan Sunda (Opien Bandung), serta masjid dengan suasana sejuk berlatar pegunungan.

Selain menikmati wisata yang tersedia, para pengunjung Land Of Wakaf Teras Lembang dapat menikmati spot-spot tersebut, pengunjung juga disajikan dengan pemandangan sejuk Gunung Putri yang terpampang tepat di belakang Teras Lembang.

Sebagai bentuk pengembangan Kawasan Land Of Wakaf Teras Lembang, pada akhir tahun 2022 lalu Sinergi Foundation kembali mengembangkan program Wakaf Produktif dengan membuat Rumah Makan Berbasis Wakaf yang dinamakan Rumah Makan Jenderal yang menyajikan menu berupa sambal bakar, liwetan dan sate, juga tidak ketinggalan menyejikan menu yang banyak diminati saat ini yaitu suki dan grill.

Keuntungan yang didapatkan dari hasil wisata halal pengelolaan Land Of Wakaf Teras Lembang dialirkan kembali untuk pengembangan program-program sosial di Sinergi Foundation. Program sosial tersebut berupa pendidikan gratis Kuttab Al Fatih Cileunyi, layanan kesehatan gratis bagi ibu dhuafa di Rumah Bersalin Cuma-Cuma dan program sosial lainnya.

”Insya Allah keuntungan dari usaha pengembangan wisata halal di kawasan Land Of Wakaf Teras Lembang ini akan disalurkan untuk berbagai program sosial Sinergi Foundation, seperti pendidikan gratis Kuttab Al Fatih Cileunyi, dan akses kesehatan gratis di Rumah Bersalin Cuma-Cuma. Jadi kalau berbelanja di sini, sekaligus pula bersedekah,” ujar Asep Irawan, CEO Sinergi Foundation.

Bagi masyarakat yang berkunjung ke Kawasan Land Of Wakaf Teras Lembang, tidak hanya dapat menikmati wisata yang telah tersedia disana, tapi juga bisa turut mendukung pengembangan program-program sosial yang di kelola oleh Sinergi Foundation.

Untuk ke depannya Sinergi Foundation juga berencana untuk mengembangkan spot-spot wisata lainnya di Kawasan Land Of Wakaf Teras Lembang tersebut.

Land of Wakaf Teras Lembang Sinergi Foundation sendiri merupakan kawasan wisata halal berbasis wakaf yang dikelola oleh lembaga non-profit Sinergi Foundation. Terdapat berbagai fasilitas yang ditawarkan, di antaranya kedai makanan sunda (opieun bandung), rumah makan jenderal, kebun anggrek, kebun stroberi, kebun sayuran, arena berpanah dan berkuda, arena camping ground serta tempat beribadah yakni Masjid Daarul Aulia Lembang.

“Aceh Punya Potensi Sangat Besar untuk Wisata Halal”

ilustrasi (foto: bandaacehkota.go.id)

MTN, Jakarta – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh menyatakan kalau Aceh memiliki potensi wisata yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi wisata halal.

“Seluruh kabupaten/kota di Aceh memiliki potensi menjadi destinasi wisata halal,” ujar Kadisbudpar Aceh, Almuniza Kamal, di Banda Aceh, Selasa (24/1).

Dilansir dari Republika, Almuniza menjelaskan, untuk saat ini lokasi yang banyak dikunjungi wisatawan sepanjang 2022 di provinsi ujung paling barat Indonesia itu adalah: Banda Aceh, Sabang, Aceh Besar, dan Aceh Utara.

Ia menjelaskan, Disbudpar Aceh saat ini terus mengembangkan pariwisata halal melalui berbagai program, salah satunya adalah Expo Produk Usaha Halal Aceh dan berbagai kegiatan lainnya.

“Sistem pemerintahan dan masyarakat Aceh sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam dapat menjadi nilai pendukung dalam pengembangan wisata halal,” kata Almuniza.

Menurut Almuniza, Aceh memiliki prospek bisnis wisata halal sangat menjanjikan, di mana semua sendi kehidupan berlandaskan syariat Islam. Selain itu, wisata halal tersebut juga sekaligus memperkenalkan syariat Islam yang rahmatan lil’alamin.

Pemerintah Provinsi Aceh kini terus memfokuskan pengembangan pariwisata halal untuk meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Pengembangan pariwisata halal sejalan dengan penerapan syariat Islam di provinsi ujung barat Indonesia tersebut.

Almuniza berkata ada empat pilar yang harus dibenahi untuk membangun sektor pariwisata. Yakni destinasi, pemasaran, industri, dan kelembagaan. Keempat pilar tersebut harus digerakkan serentak agar Aceh menjadi destinasi unggulan wisata.

KNEKS Rilis Panduan untuk Pariwisata Ramah Muslim

Pihak KNEKS ketika meluncurkan buku Panduan Pariwisata Ramah Muslim di Lima Destinasi Favorit (foto: madinaworld.id)

MTN, Jakarta – Pihak Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) baru saja meluncurkan Buku Panduan Pariwisata Ramah Muslim di lima destinasi superprioritas pada September tahun lalu. Tujuannya agar dapat menggencarkan pengembangan wisata ramah Muslim.

“Kita sudah bikin pedoman untuk lima destinasi superprioritas,” ujar Direktur Industri Produk Halal KNEKS, Afdhal Aliasar, di Jakarta (13/1).

Dilansir dari Republika, Afdhal melanjutkan, saat ini pihak KNEKS tengah menyiapkan Masterplan Industri Halal Indonesia. Masterplan tersebut sudah di tahap penyelesaian dan tengah dikoordinasikan oleh manajemen eksekutif KNEKS.

Nantinya, masterplan itu memuat banyak strategi pengembangan industri halal, termasuk pengembangan pariwisata ramah Muslim. “Masterplan Industri Halal Indonesia di dalamnya juga ada strategi pengembangan pariwisata ramah muslim di Indonesia,” ungkap Afdhal.

Menjelang Asean Tourism Forum (ATF) 2023 bulan Februari nanti, Afdhal menyebutkan, pihak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan asosiasi pariwisata lainnya akan lebih banyak berperan.

Mengawali tahun 2023 ini, pemerintah sudah bergerak cepat. KNEKS telah memasukkan beberapa program pengembangan industri halal dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2023, melalui Peraturan Presiden Nomor 108 Tahun 2022.

Disebutkan, terdapat tujuh proyek prioritas terkait pengembangan industri halal Indonesia. Di antaranya adalah: Pengembangan Infrastruktur Industri Halal, Penguatan Regulasi dan Fasilitasi Usaha Industri Halal, Penguatan Pelaku Industri Halal, Kerja Sama Internasional Industri Halal, Pengembangan Pariwisata Ramah Muslim, Penguatan Halal Value Chain, dan Penguatan Penyelenggaraan Jaminan Produk Halal.

“Kesemua ini akan juga ter-update dalam pemutakhiran RKP 2023 ini. Jadi semua kementerian dan lembaga terkait bisa membuat programnya masing-masing mengikuti arahan pemerintah ini,” tuturnya.

Hal itu, lanjut Afdhal, merupakan bukti nyata industri halal telah menjadi prioritas nasional. Ini sekaligus memiliki keselarasan dengan program pembangunan pemerintah.

Prediksi 2023: Turis Lebih Pilih Wisata Murah

ilustrasi (foto: mediaindonesia.com)

MTN, Jakarta – Tahun 2023 diprediksi akan dihantam resesi ekonomi. Untuk dunia wisata pun diprediksi kalau para turis mancanegara lebih pilih wisata yang murah. Seperti apa?

Dilansir dari Kompas, kondisi perekonomian global yang melambat pada tahun 2023 akan mendorong wisatawan mancanegara mencari destinasi wisata yang ”murah”.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga S Uno, dalam Jumpa Pers Akhir Tahun, Senin (26/12), di Jakarta, mengatakan, kondisi ekonomi yang menantang tentu berdampak pada perilaku wisatawan.

Padahal, pemerintah telah menargetkan pada tahun 2023, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) berkisar 3,5 – 7,4 juta orang. Perolehan
devisa pariwisata ditargetkan bisa mencapai 5,9 miliar dollar AS pada 2023, naik dari tahun ini sebesar 4,26 miliar dollar AS.

Pergerakan wisatawan Nusantara (wisnus) disasarkan naik dari 633-703 juta pergerakan pada tahun 2022 menjadi 1,2 – 1,4 miliar pergerakan.

Deputi Bidang Kebijakan Strategis Kemenparekraf/Baparekraf Nia Niscaya mengatakan, karena resesi ekonomi global diperkirakan terjadi tahun 2023, jarak tempuh menuju destinasi akan jadi tantangan utama wisatawan.

Pemerintah Indonesia akan menyasar wisman dari negara-negara yang perekonomiannya masih tumbuh relatif bagus, misalnya, India, Australia, Singapura, Malaysia, dan China.

Ketua Umum Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI) Riyanto Sofyan, saat dihubungi terpisah, mengatakan kalau pencapaian kunjungan wisman ataupun pergerakan wisnus sepanjang 2022 berdampak positif bagi kelangsungan usaha pelaku industri pariwisata yang dua tahun sebelumnya harus menghadapi sepi permintaan.

Meski demikian, pencapaian itu baru 80 persen dari pemulihan
yang diharapkan. “Ongkos (operasional usaha dan berwisata) telah naik. Memang, masih banyak warga ’balas dendam’ berwisata, tetapi daya beli mereka sesungguhnya turun. Ada porsi pengeluaran yang mungkin mereka kurangi, apalagi harga tiket pesawat relatif masih mahal,” ujar Riyanto.

Penasihat Tim Ekonomi Kerthi Bali Research Center Universitas Hindu Indonesia, Cipto Gunawan, menambahkan, perekonomian global yang menurun akan mendorong warga mencari destinasi yang ”murah”. Maksudnya, biaya akomodasi hingga kebutuhan sehari-hari relatif terjangkau. Kemudahan dan kecepatan akses menuju destinasi jadi hal utama dipertimbangkan.

“Indonesia sebenarnya masih termasuk destinasi ‘murah’, hanya saja Indonesia harus bersaing dengan negara ASEAN lainnya, seperti Vietnam dan Thailand yang juga dianggap sebagai destinasi ‘murah’,” pungkas Cipto.