“Kontribusi Industri Halal Indonesia Capai 30% PDB Lima Tahun Lagi”

pembukaan Kongres Halal Internasional 2022 (foto: idxchannel.com)

MTN, Jakarta – Wakil Presiden RI, KH Maruf Amin, mengatakan kalau kontribusi industri halal Indonesia bisa mencapai angka 30% Produk Domestik Bruto (PDB).

Dilansir dari SudahBaca, Wakil Presiden RI, KH Maruf Amin mengatakan bahwa selama ini Indonesia sudah memberikan kontribusi terhadap konsumsi halal sebesar 10 persen.

“Namun sebaiknya tidak berhenti disana. Indonesia harus menjadi produsen produk-produk halal terbesar di dunia,” ujar Kiai Maruf.

Hal itu disampaikan Kiai Maruf ketika menyampaikan sambutan dalam acara pembukaan Kongres Halal Internasional 2022 di Bangka Belitung pada Selasa (14/6).

Pada sambutannya juga Wapres menyampaikan mengenai tren ekonomi dan keuangan syariah global yang terus berkembang.

Hal ini didorong oleh laju pertumbuhan Muslim dunia yang meningkat dan diiringi oleh pola pikir konsumen.

Kiai Maruf menjelaskan, pola pikir konsumen yang berubah karena konsumen sekarang ini sangat selektif dalam mengonsumsi makanan. Tidak hanya harus sesuati dengan syariat, namun juga mesti sejalan dengan etika, berkualitas tinggi dan aman.

Bahkan, kata kiai Maruf, kebutuhan semacam tersebut tidak hanya dituntut oleh umat Muslim, tetapi juga oleh umat non Muslim, bahkan negara yang mayoritas bukan mayoritas umat Muslim mempunyai standarisasi yang sama dengan umat Islam ketika hendak mengkonsumsi.

“Hal ini menjadikan produk halal dan ekonomi syariah bersifat inklusif, tidak diperuntukan hanya pemeluk agama Islam saja, tetapi dibutuhkan beragam kalangan,” ujar Wapres RI tersebut.

Pada kesempatan ini, atas nama Pemerintah, kiai Maruf juga menyampaikan rasa terimakasih dan apresiasi kepada MUI sebagai pelopor sertifikasi halal yang sudah lebih dari 30 tahun.

“Standar halal MUI sudah menjadi standar global, sudah memperoleh pengakuan dimana-mana dan ada perwakilan MUI di Australia, Korea, Taiwan. Ini merupakan sebuah rintisan atau inisiatif yang luar biasa dan mempunyai nilai yang tinggi disisi Allah SWT,” ungkapnya.

Kiai Maruf menyampaikan pesan Rasulullah SAW. Barang siapa yang memulai inisiatif untuk melakukan suatu kebaikan, kemudian kebaikan itu diikuti oleh orang lain. Maka dia akan mendapatkan pahala yang tidak akan berhenti sampai hari kiamat.

Oleh karena itu, ini harus diteruskan karena selama ini Indonesia hanya menjadi pusat sertifikasi halal. “Tapi produsen halal bukan Indonesia. Bahkan negara-negara yang mayoritas justru non Muslim,” tegasnya.

“Saya yakin kontribusi indutri halal terhadap PDB akan terus meningkat. Saya berharap dalam 5 tahun ke depan bisa mencapai 30 persen,” pungkas Kyai Ma’ruf.

Kongres Halal Internasional 2022 di Bangka Belitung Dibuka Hari Ini

MTN, Jakarta – Kongres Halal Internasional (KHI) 2022 di Bangka Belitung resmi dibuka hari ini (14/6). Kongres ini ingin hasilkan resolusi halal, yang berisi panduan industri dan pariwisata halal.

Dilansir dari Bangka Pos, Kongres Halal Internasional Tahun 2022 di Bangka Belitung akan digelar pada tanggal 14 hingga 18 Juni 2022.

Wakil Presiden Republik Indonesia, Maruf Amin, yang membuka acara yang akan dihadiri 450 orang dari 15 negara secara online dan offline ini.

Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Ekonomi Syariah dan Halal MUI Pusat, Rofiqul Umam Ahmad, mengatakan, dalam Kongres Halal, ada dua variabel yang dibahas, meliputi industri halal dan pariwisata halal.

“Wisatawan tentu ingin berlibur dengan aman dan nyaman, kita berharap dengan kongres ini komitmen halal ini makin bergema,” kata Rofiqul (13/6).

Rofiqul menyebut, pemerintah selalu fokus agar masyarakat mendapat pelayanan dan produk halal.

“Kita siapkan wisata halal ini dari sisi hotel dan restoran hingga makanan yang halal. Kalau sudah bersertifikat sudah pasti halal. Tapi kalau belum bersertifikat bukan berarti haram, tetapi belum bersertifikat halal. Tentu untuk sertifikat halal ada proses-prosesnya,” jelasnya.

Ada dua kegiatan besar dalam agenda ini, yakni diskusi mengenai isu halal untuk menghasilkan draft resolusi halal.

“Kita mengundang berbagai narasumber yang berkompeten di bidangnya. Kita harap para peserta bisa bertukar pikiran terkait forum pembahasan dalam kongres dan menyepakai draf resolusi dunia, yang akan menjadi panduan dalam hal nanti mengimplementasikan industri halal dan pariwisata halal di negara masing-masing,” tutur Rofiqul.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bangka Belitung, Dr Zayadi, mengatakan Bangka Belitung sangat berbangga diri sebagai tuan rumah Kongres Halal Internasional 2022.

Bangka Belitung sendiri cukup peduli mengenai isu halal. Hal ini bisa dilihat dari sudah ribuan UMKM yang disertifikasi halal.

Tak dipungkiri, MUI Babel memang ingin Bangka Belitung menjadi destinasi wisata halal kelas dunia.

Memaknai wisata halal ini sendiri dengan cara menyediakan fasilitas dan kuliner yang mengantongi sertifikat halal.

“Hampir 90 persen itu sertifikasi dibantu oleh pemerintah daerah, dan 10 persen yang mandiri. Sekarang sudah banyak rumah makan dan hotel yang disertifikasi. Jadi minat mereka sejak kita sosialisasi, Alhamdulilah minat mereka meningkat dan ada dampak baik bagi usaha mereka saat produk sudah disertifikasi,” kata Zayadi.

Tak hanya tentang industri halal, dalam Kongres Halal Internasional, para peserta juga akan diajak untuk tur wisata halal di pulau Bangka dan Belitung.

“Kita ingin Bangka Belitung menjadi destinasi halal internasional, kita memulai dari wisata halal. Nanti Perlang, Bangka Tengah akan menjadi desa wisata halal pertama di dunia. Karena desa itu sudah bagus dan kunjungan sudah banyak, serta kita harap Desa Perlang menjadi contoh bagi desa lainnya walaupun potensi tidak sama,” pungkasnya.

Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah Dorong Pemulihan Wisata Halal

ilustrasi (gambar: minanews.net)

MTN, Jakarta – Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) mendorong sinergi untuk memulihkan wisata halal nasional.

“KNEKS bersama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sebagai lead stakeholder-nya terus berupaya mendorong pulihnya sektor pariwisata halal,” ujar Direktur Industri Produk Halal KNEKS, Afdhal Aliasar, di Jakarta, awal bulan ini (2/6).

Dengan adanya wisata halal, wisatawan Muslim dapat lebih nyaman dengan memperhatikan tersedianya kebutuhan. Misalnya, tempat shalat di lokasi destinasi wisata, makanan halal, dan atraksi yang baik untuk keluarga.

Dilansir dari Republika, Afdhal mengatakan, KNEKS menyambut baik dan bangga atas capaian Indonesia yang naik dari posisi empat. “Ini adalah hasil kerja keras kita bersama para insan pariwisata dan masyarakat,” ungkap Afdhal.

Afdhal berharap peringkat kedua dari GMTI akan memberikan dorongan dan energi yang lebih besar agar inudstri ini bisa bergerak lebih maju. Ia berharap Indonesia menjadi tujuan destinasi utama bagi pelancong Muslim dunia sehingga bisa mendongkrak perekonomian nasional.

GMTI 2022 secara resmi diluncurkan oleh Halal in Travel Global Summit. Ada sebanyak 18 penghargaan yang diberikan dalam penyelenggaraan acara di Singapura, Rabu (1/6) tersebut. Sebanyak 18 pemenang berasal dari empat kategori, yakni GMTI Award, Muslim-Friendy Service Provider Award, HalalTrip Travelers Choice Award, dan Halal Travel Personality of the Year.

Indonesia juga memperoleh penghargaan Halal Travel Personality of the Year yang diberikan pada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno. Sandiaga berharap penghargaan tersebut mampu mendorong upaya pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) serta pembuka lapangan kerja.

Optimisme tersebut disampaikan Sandiaga merujuk besarnya potensi pasar wisata halal. Data menunjukkan, pada 2019, umat Islam di seluruh dunia menghabiskan total 2,02 triliun dolar AS untuk belanja makanan, kosmetik, farmasi, fesyen, travel, dan rekreasi. Pasar Muslim global diperkirakan akan tumbuh hingga 2,4 triliun dolar AS pada 2024.

Sejumlah pengeluaran terbesar bagi konsumen Muslim adalah pada makanan dan minuman halal. Menurut Sandiaga, Indonesia harus menciptakan peluang-peluang usaha berbasis pariwisata halal.

Global Muslim Travel Index 2022 Menempatkan Indonesia di Posisi Dua

ilustrasi (foto: GNFI)

MTN, Jakarta – Indonesia kini menempati peringkat kedua di Global Muslim Travel Index (GMTI) 2022. Seperti apa?

Dilansir dari Republika, Indonesia meraih peringkat kedua di Global Muslim Travel Index (GMTI) 2022, setelah peringkat satu dinobatkan kembali untuk Malaysia.

Direktur Industri Produk Halal Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Afdhal Aliasar, menyampaikan kalau Indonesia naik dua peringkat dari yang sebelumnya posisi empat pada 2021.

“Saya tadi ikut hadir di Singapura (acara peluncuran GMTI 2022), Indonesia naik dari ranking empat ke ranking dua,” ujar Afdhal, awal bulan ini (1/6).

Posisi kedua dalam GMTI 2022 ditempati tidak hanya oleh Indonesia tapi juga Arab Saudi dan Turki karena memiliki nilai sama yakni 70. Sementara Malaysia memperoleh score 74. Posisi selanjutnya adalah Uni Emirat Arab dengan nilai 66, dan Qatar dengan nilai 64.

Global Muslim Travel Index 2022 diluncurkan oleh Mastercard-CrescentRating. Laporan tahunan ini menjadi optimisme baru untuk sektor pariwisata setelah mengalami penurunan sangat tajam karena pandemi Covid-19 sejak dua tahun lalu.

Afdhal menyampaikan kalau Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republika Indonesia, Sandiaga Uno, juga memperoleh penghargaan sebagai Halal Travel Personality of the Year 2022.

GMTI 2022 memperingkatkan 138 destinasi, dalam upayanya mengakselerasi pemulihan pariwisata halal secara global.

Founder dan CEO CrescentRating HalalTrip, Fazal Bahardeen, mengatakan kalaulaporan tahun ini menggarisbawahi kunci pendorong utama fase pertumbuhan dan pemulihan untuk pasar pariwisata halal dunia.

Menurut Fazal, Generasi Z, milenial dan perempuan akan menjadi kontributor utama yang paling berpengaruh untuk pemulihan pasar pariwisata halal dunia.

“Sebanyak 70 persen populasi dunia adalah milenial dan generasi Z, pelancong perempuan juga kini menjadi salah satu yang berkembang paling pesat untuk wisata halal, jumlahnya mencapai 45 persen,” ujar Fazal.

Pelancong Muslim secara global telah mencapai 160 juta orang pada 2019. Setelah disrupsi krisis pada 2020 dan 2021, ia memperkirakan jumlah wisatawan Muslim akan mencapai 140 juta orang pada 2023 dan kembali pada level 2019 yakni 160 juta orang pada 2024.

Menurut proyeksi prapandemik, jumlah wisatawan Muslim akan mencapai 20 juta orang pada 2025. Sementara estimasi pengeluaran untuk wisata halal diperkirakan akan mencapai 225 juta dolar AS pada 2028.

Fazal menyebut proses ini masih diliputi ketidakpastian karena tantangan yang ada. Seperti keberlanjutan perang Ukraina dan Rusia, kenaikan harga energi, dan ancaman kesehatan lain seperti cacar monyet atau varian lain dari Covid-19.

“Namun demikian, kita tetap optimistis ekonomi akan kembali pulih, terlebih ada banyak perbaikan di industri pariwisata seperti tidak adanya lagi karantina untuk wisata internasional,” pungkasnya.

Baca detail dari Global Muslim Travel Index 2022 di SINI.

Masih Kerap Salah Tafsir, Menparekraf Jelaskan lagi Pengertian Wisata Halal

Menparekraf Sandiaga Uno (foto: www.idxchannel.com)

MTN, Jakarta – Masyarakat masih kerap salah tafsir, Menparekraf Sandiaga Uno jelaskan lagi pengertian wisata halal. Seperti apa?

Dilansir dari Suara, melalui akun Instagram pribadinya, Sandiaga Uno, mencoba meluruskan pengertian wisata halal yang sebenarnya.

“Di acara @biznids Halal & Sharia Expo 2022, saya tekankan lagi bahwa wisata halal bukan mengubah obyek wisata menjadi halal,” tulis Sandiaga Uno, pada Rabu (18/5).

Sandiaga Uno memberikan contoh atas penerapan wisata halal yang benar sesuai dengan konsep.

“Halal yang dimaksud adalah penyediaan pangan yang disajikan dalam restoran, ketersediaan tempat ibadah dan hotel yang dapat memiliki standar kehalalan, juga termasuk kesehatan dan higienitas,” jelasnya.

Hal ini disampaikan Sandiaga mengingat tingkat konsumsi produk halal global tahun 2021 yang mencapai USD 2,2 triliun, sebuah angka yang sangat besar.

Sehingga ia meyakini hal itu akan menjadi peluang besar yang bisa ditangkap untuk kebangkitan ekonomi.

“Saya yakin sektor halal dapat membuka peluang usaha dan lapangan kerja, juga menjadi lokomotif kebangkitan ekonomi Indonesia,” ucap Sandiaga.

Sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga sendiri menjelaskan jika kementeriannya terus mengembangkan wisata halal yang pasarnya terus membesar.

“Kami di @kemenparekraf.ri fokus pada pengembangan Wisata Ramah Muslim mulai dari penginapan, makanan halal, paket wisata dan keuangan. Mari gerak cepat dan semangat untuk memajukan Wisata Halal di Indonesia!,” pungkasnya.

Indonesia Muslim Life Fair 2022 Digelar Bulan Depan di Yogyakarta

Indonesia Muslim Life Fair 2022 (gambar: joss.co.id)

MTN, Jakarta – Eksibisi besar Indonesia Muslim Life Fair 2022 bakal digelar di Yogyakarta pada 3 – 5 Juni 2022 di Jogja Expo Center atau JEC. Seperti apa?

Dilansir dari Tempo, penyelenggara Indonesia Muslim Life Fair 2022, Deddy Andu mengatakan, saat diadakan di Jakarta, tercatat lebih dari 30 ribu pengunjung dengan pendapatan mencapai Rp15 sampai Rp20 miliar.

“Untuk penyelenggaraan di luar Jakarta, kami memilih Yogyakarta karena dikenal sebagai Kota Pelajar dan ada ratusan kampus di mana millenial menjadi target pasar acara ini,” kata Deddy di Yogyakarta (18/5).

Direktur PT Lima Events ini menjelaskan, Muslim Life Fair merupakan bagian dari acara yang lebih besar, yakni Indonesia Muslim Life Fest yang akan berlangsung pada 26-28 Agustus 2022 di Indonesia Convention Exhibition BSD (ICE BSD).

Sebelumnya, Indonesia Muslim Life Fest sukses menarik perhatian 60 ribu pengunjung dalam perhelatan pertamanya pada Agustus 2019 di Jakarta Convention Center (JCC).

Deddy Andu mengaku tidak memasang target khusus jumlah pengunjung di Yogyakarta. Setidaknya, menurut dia, acara ini bisa menjadi salah satu opsi wisata halal di Yogyakarta yang mengungkit perekonomian pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM.

Indonesia Muslim Life Fair 2022 di Yogyakarta berkolaborasi dengan Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia atua KPMI dan akan diikuti oleh 180 eksibitor, baik dari Yogyakarta dan daerah lainnya. Ratusan tenant yang menempati area pamerah seluas 1.800 meter persegi itu akan menghadirkan berbagai kebutuhan produk halal dan islami. Mulai dari modest fashion, islamic education, hobbies and communities, islamic book and publisher, halal travel, thibbun nabawi herbal, beauty and pharmaceutical, hingga Kuliner Halal Aman & Sehat (KHAS).

Deddy Andu melanjutkan, Yogyakarta memiliki potensi UMKM produk halal yang besar. Keunggulan itu, menurut dia, dapat digabungkan dengan daya tarik berbagai destinasi wisata yang menarik. “Semua aktivitas wisata itu bisa menjadi satu rangkaian kegiatan yang menarik,” ujarnya.

Ketua Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia atau KPMI, Rachmat Surtanas Marpaung, mengatakan, pameran Indonesia Muslim Life Fair Yogyakarta menjadi upaya gotong-royong menumbuhkan perekonomian lokal dalam situasi pandemi. Terlebih pada 2021, pertumbuhan ekonomi Yogyakarta melaju sebesar 5,53 persen atau tumbuh di atas ekonomi nasional. “Tingginya animo masyarakat terhadap rangkaian acara Muslim Life Fair Jakarta menginspirasi kami untuk melanjutkan pameran serupa di Yogyakarta,” pungkasnya.

“Wisata Halal Berpotensi Perkuat Industri Pariwisata Nasional”

Kepala BPJPH Kemenag, Muhammad Aqil Irham (foto: kemenag.go.id)

MTN, Jakarta – Kepala BPJPH menyatakan kalau wisata halal berpotensi untuk perkuat industri pariwisata nasional. Seperti apa?

Dilansir dari JawaPos, Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kemenag, Muhammad Aqil Irham, menilai kalau halal tourism atau wisata halal sangat potensial untuk memperkuat industri pariwisata nasional.

“Seiring perkembangan halal sebagai tren global yang berkembang pesat, saat ini wisata halal telah menjadi perhatian dunia sehingga (perlu) dikembangkan secara serius oleh berbagai negara mengingat peluangnya yang begitu besar,” ujar Aqil di Jakarta (23/5).

Halal Tourism dalam pandangan Aqil merupakan konsep wisata yang menyediakan layanan tambahan untuk meningkatkan kepuasan wisatawan dalam memperoleh produk halal. Bisa berupa barang maupun jasa. Dengan begitu, wisatawan muslim memperoleh kemudahan untuk mendapatkan layanan yang berkaitan dengan makanan, minuman, atau kebutuhan lain yang terjamin kehalalannya.

“Artinya, aspek halal bukan berkaitan dengan mengislamisasikan destinasi wisatanya, melainkan dari sisi pelayanannya yang berbasis ketersediaan produk halal,” jelas Aqil.

Aqil menegaskan, wisata halal hanya dapat terwujud ketika Jaminan Produk Halal dilaksanakan. Sebab, tersedianya produk bersertifikat halal hanya terwujud dengan diterapkannya standar halal melalui mekanisme sertifikasi halal bagi produk yang berupa barang maupun jasa.

“Misalnya destinasi wisata halal di Lombok, di sana telah tersedia hotel-hotel dengan resto-resto yang telah bersertifikat halal, kuliner di sana yang juga menjadi daya tarik wisatawan juga halal, dan lain sebagainya. Semuanya membentuk ekosistem wisata halal,” pungkasnya.

Potensi Besar Wisata Halal Bagi Umat Muslim

ilustrasi (foto: Kumparan)

MTN, Jakarta – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, menyampaikan umat Muslim memiliki peluang besar untuk mengembangkan pariwisata halal.

Dilansir dari Republika, Sandiaga mengatakan, pariwisata halal selain memiliki pasar yang bagus, juga prospektif.

“Wisata ini juga melibatkan banyak rumah tangga umat Muslim. Itu yang menjadi pertimbangan. Maka sekali lagi, salah satu agenda peningkatan ekonomi umat adalah wisata halal, karena melibatkan rumah tangga umat,” ujar Sandiaga, saat menghadiri acara Dinamiku Darul Hikam bertajuk ‘Program dan Agenda Umat Islam Menuju Indonesia Emas 2045’ secara daring pada awal pekan lalu (24/4).

Sandiaga melanjutkan, pemerintah telah berkomitmen untuk mendukung pariwisata halal dengan mulai membangun berbagai infrastruktur. “Karena ini adalah ekonomi kerakyatan. Orang menjual, bukan hanya menjual dagangannya, tetapi juga menjual tempat tinggalnya dengan disewakan, dan menjual produk-produk lainnya,” tuturnya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, KH Asrorun Ni’am Sholeh menyampaikan, umat Muslim dituntut untuk mengokohkan pondasi kehidupan yang memiliki nilai kebaikan. Dalam setiap situasi dan kondisi, nilai kebaikan ini tidak boleh larut dalam perubahan yang terjadi.

“Ini perlu dikokohkan agar ada pijakan sehingga kita tidak menjadi buih yang diterjang oleh ombak perubahan. Dan pondasi ini tentunya adalah agama kita, di mana hukum Islam ini tidak lekang oleh waktu dan tempat,” ungkanya.

Kiai Asrorun juga mengingatkan untuk terus melakukan upaya perbaikan terus-menerus. Dia menjelaskan, faktor yang memicu perubahan saat ini ialah teknologi dan informasi. Penguasaan keduanya didominasi oleh belahan dunia maju yang rata-rata bukan dari dunia Muslim.

Namun, Kiai Asrorun mengatakan, teknologi dan informasi itu tetap diperlukan dengan beradaptasi terhadap perubahan tersebut. “Adaptasi agar ketika ada perubahan kita tetap memiliki identitas keislaman dan juga identitas budaya,” tuturnya.

Kiai Asrorun melanjutkan, dinamika perkembangan teknologi memang sangat cepat tetapi bisa dioptimalisasi untuk memudahkan umat Muslim melaksanakan ibadah. Misalnya dalam menentukan awal Ramadhan, menunaikan zakat, berinfak, dan lainnya. “Berinfak, kalau dulu manual, meletakkan kotak di masjid, tetapi sekarang muncul platform alternatif yang memungkinkan jangkuan lebih luas,” pungkasnya.

“Bangkitkan Perekonomian Indonesia via Wisata Halal”

acara webinar Masjid Salman ITB dengan Menparekraf (gambar: itb.ac.id)

MTN, Jakarta – Menparekraf menyatakan sekarang merupakan waktu untuk membangkitkan perekonomian Indonesia, salah satunya adalah lewat pariwisata halal. Seperti apa?

“Sekarang merupakan waktu untuk membangkitkan perekonomian Indonesia, salah satunya adalah lewat pariwisata halal dengan pasar utama di dalam negeri sendiri, salah satunya adalah kepada peserta umroh dengan jumlah 7000 setiap harinya, akan dibuat konsep travel pattern, sehingga sebelum keberangkatannya, mereka bisa mengunjungi destinasi wisata halal, diharapkan kita juga bisa mengembangkan post umroh,” ujar Sandiaga Uno di acara webinar Masjid Salman ITB dengan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno dan Ir. Budi Faisal, Ph.D., tengah bulan ini (16/4).

Dilansir dari situs itb.ac.id, menteri yang akrab disapa Sandi itu mengatakan, sektor pariwisata merupakan sektor yang sangat potensial, sebelum pandemi, pada tahun 2018 Indonesia menempati peringkat sembilan sebagai negara dengan pertumbuhan sektor pariwisata tercepat di dunia, nomor tiga di Asia dan nomor satu di Asia Tenggara.

Menurut Menparekraf, konsep pariwisata halal juga harus bertransformasi bagaimana kita bisa menghadirkan jenis wisata yang mengedepankan kesehatan dan keselamatan.

Terdapat beberapa pembagian kebutuhan dalam terselanggaranya wisata halal, yang pertama adalah need to have atau harus dimiliki seperti makanan halal dan fasilitas ibadah, kedua adalah good to have seperti pelayanan Ramadan dan local muslim experience, dan ketiga nice to have seperti fasilitas rekreasi dengan privasi dan ramah muslim.

Menurut data, yang dijelaskan oleh Sandi, pariwisata halal dan ramah muslim memiliki jumlah pasar yang cukup besar, dilihat pada tahun 2019 pengeluaran wisata muslim dunia mencapai 12% pengeluaran wisatawan global. Indonesia menempati peringkat kelima sebagai negara dengan wisatawan muslim (spending outbound muslim travel countries). Pariwisata halal tentunya bukan zonasi, lokalisasi, atau mensyariahkan tempat wisata namun kebijakan pengembangan wisata ramah muslim yang mengedepankan suatu kebermanfaatan kepada substansi yang menyediakan layanan family muslim friendly seperti makanan, penginapan, dan transportasi yang halal.

“Negara-negara lain sudah mengembangkan hal ini dengan antusias yang tinggi oleh karena itu Kemenparekraf mendorong tiga strategi utama dalam pengembangan pariwisata ramah muslim, yaitu inovasi, adaptasi, dan kolaborasi,” pungkas Sandi.

Kamboja Targetkan Dua Miiar Konsumen Muslim via Wisata Halal

ilustrasi (gambar: law-justice.co)

MTN, Jakarta – Kamboja targetkan dua miliar konsumen muslim melalui industri wisata halal di negaranya.

Dilansir dari Tribun News, kabar ini disampaikan oleh Duta Besar RI untuk Kerajaan Kamboja, Sudirman Haseng, yang belum lama ini membuka Workshop ‘Dasar-Dasar Wisata Halal untuk para Pejabat Kementerian Pariwisata Kamboja’, pekan lalu (23/4).

Perwakilan Indonesia di acara ini berkesempatan untuk memberikan dasar-dasar pengetahuan tentang wisata halal kepada Kementerian Pariwisata Kamboja.

Sudirman menyatakan bahwa menurut laporan The State of Global Islamic Report 2020/2021, muslim dunia membelanjakan USD2,02 triliun untuk makanan, obat-obatan, kosmetika, fesyen, perjalanan, dan media/rekreasi, yang sesuai dengan kebutuhan konsumsi yang berlandaskan pada ajaran Islam, pada tahun 2019.

“Jika Kamboja dapat memenuhi kebutuhan produk dan jasa untuk pelancong Muslim dan konsumen Muslim, maka dapat dipastikan bahwa sekira 237,53 juta penduduk Muslim Indonesia akan jadi calon konsumen produk-produk Kamboja,” ujar Sudirman Haseng dalam keterangan resminya, awal pekan ini (26/4).

Koordinator Kerja Sama dan Standardisasi Halal BPJPH Kemenag RI, Fertiana Santy, menyampaikan bahwa halal bukan hanya serta merta tentang agama atau peraturannya.

Halal juga menyangkut mereka yang perhatian dengan metode halal dan gaya hidup sehat.

Menurutnya, halal juga menyangkut keamanan, kebersihan, keberlanjutan, dan integritas yang merupakan kunci masyarakat madani modern dan standar global jaminan kualitas.

Jaminan terkait halal saat ini merupakan wewenang BPJPH setelah sebelumnya merupakan wewenang dari MUI.

Workshop yang disampaikan perwakilan dari Indonesia ini diharapkan juga sekaligus membuka jalan masuknya produk halal Indonesia ke Kamboja.

Workshop diarahkan untuk menjadi peluang promosi produk-produk halal Indonesia baik barang maupun jasa seperti ekspor produk halal Indonesia, gaya hidup halal, sertifikasi dan standarisasi halal yang diakui di berbagai negara.

Selain itu, workshop ini merupakan implementasi dari Perjanjian Kerja Sama Ekonomi dan Teknik RI-Kamboja yang ditandatangani tahun 1994 di Jakarta dan Memorandum Kesepahaman Bidang Pariwisata yang ditandatangani di sela-sela ASEAN Tourism Forum pada Januari 2022 untuk membantu peningkatan sumber daya manusia Kamboja di bidang pariwisata.

Kementerian Pariwisata Kamboja tengah mempersiapkan diri menyambut wisatawan asing pasca pandemi dan menerapkan rencana pemulihan pembangunan wisata tahun 2021-2025.

“Workshop berfokus pada pendidikan dan pelatihan keahlian yang berkualitas sesuai standar dalam dan luar negeri untuk merespon kebutuhan lapangan kerja di sektor pariwisata,” kata Undersecretary of State Kementerian Pariwisata Kamboja, Katoeu Muhammad Nossry.