Masjid Al Aqsa Tutup Selama Bulan Ramadhan

MTN, Jakarta – Masjid Al Aqsa perpanjang masa penutupan selama Ramadhan ini. Seperti apa?

Dampak pandemi Corona, kompleks Masjid Al Aqsa akan memperpanjang penutupan hingga Ramadhan. Ulama setempat telah mengumumkan hal ini.

Dilansir dari Detik Travel, saat Ramadhan tiba, untuk sementara umat Islam tak bisa beribadah di masjid Al Aqsa, Yerusalem.

Masjid Al Aqsa akan ditutup untuk jama’ah muslim selama bulan Ramadhan. Hal ini disebabkan oleh wabah pandemi virus Corona yang belum kunjung berakhir.

Dewan wakaf Islam di Yerussalem, mengatakan keputusan untuk menutup Masjid Al Aqsa pada bulan Ramadhan ini menyakitkan. Seharusnya di bulan suci ini umat islam dapat melakukan segala kegiatan ibadah bersama di dalam masjid.

Dewan Wakaf mengatakan keputusan ini sejalan dengan fatwa/pendapat para ulama dan juga usulan medis. Untuk menjaga kesehatan dan keselamatan, umat islam dianjurkan untuk melakukan segala kegiatan ibadah di dalam rumah.

“(Muslim harus) melakukan salat di rumah mereka selama bulan Ramadhan untuk menjaga kesehatan mereka,” kata dewan.

Suara Adzan akan tetap terus dikumandangkan lima kali sehari. Salat Tarawih dan Idul Fitri pun tetap dilaksanakan namun hanya untuk imam masjid, staf wakaf dan penjaga Al Aqsa.

Sebelumnya, Al Aqsa memang sudah ditutup sejak 23 Maret 2020, namun kebijakan ini diperpanjang hingga waktu yang belum ditentukan.

Menjalankan Ibadah Ramadhan di tengah Pandemi Corona

ilustrasi (gambar: farmasi.ugm.ac.id)

MTN, Jakarta – Muslim di seluruh dunia hari ini (24/4) serentak memasuki bulan Ramadhan di tengah pandemi Corona, dengan larangan pemerintah untuk ibadah berjamaah dan mudik.

Dilansir dari AFP, Muslim di seluruh dunia mulai menunaikan ibadah Ramadhan di tengah pandemi Corona, dengan larangan pemerintah untuk ibadah berjamaah dan mudik. Namun di beberapa negara himbauan tersebut tidak dilakukan, sehingga menimbulkan ketakutan akan naiknya angka infeksi.

Bulan puasa tahun ini di Asia, Timur Tengah dan Afrika Utara, diberlakukan larangan sholat berjamaah di masjid, bertemu kerabat dan teman untuk buka puasa.

Pembatasan telah meredam semangat di Indonesia, dunia negara mayoritas Muslim terbesar, karena organisasi keagamaan nasional setempat telah meminta umat untuk tetap tinggal di rumah.

“Ramadhan kali ini sangat berbeda – hanya saja tidak meriah,” kata Ibu rumah tangga bernama Fitria Famela.

“Saya kecewa karena saya tidak bisa pergi ke masjid, tetapi apa yang bisa kita lakukan? Dunia berbeda sekarang,” tambahnya.

Mohamad Shukri Mohamad, ulama Islam terkemuka di kalangan konservatif negara bagian Malaysia, Kelantan, berencana untuk melewatkan ibadah berjamaah di masjid.

“Ini adalah pertama kalinya dalam hidup saya tidak dapat ibadah berjamaah masjid, ” katanya kepada AFP.

“Tapi kita harus menerimanya dan mematuhi aturan jarak sosial untuk lindungi hidup kita,”

Malaysia yang mayoritas Muslim telah memperpanjang lockdown hingga pertengahan bulan Mei nanti untuk masjid, sekolah, dan sebagian besar tempat bisnis.

Pos-pos pemeriksaan polisi juga disiapkan untuk menangkap para pelanggar aturan.

Bahkan pasar kaget Ramadhan di Malaysia yang populer, tempat Muslim membeli makanan lezat setempat sebelumnya untuk berbuka puasa, telah dilarang.

Sebaliknya, orang Malaysia hanya bisa memesan dari apa yang disebut “e-bazaar”, di mana orang memesan barang secara online dan mengirimkannya ke rumah mereka.

Di negara tetangga Indonesia, terjadi kekhawatiran akan lonjakan kasus virus Corona, karena jutaan orang bepergian ke kota asal dan desa mereka pada akhir Ramadhan nanti, sehingga memaksa pemerintah setempat untuk mengeluarkan larangan.

Pemerintah Indonesia juga telah mengumumkan tindakan keras terhadap semua orang yang melakukan perjalanan udara dan laut.

Warga Jakarta yang bernama Erik Febrian mengatakan ia mengandalkan komputer untuk tetap berhubungan dengan orang tuanya di luar kota, sampai ia bisa bertemu langsung dengan mereka pada akhir Ramadhan.

“Berkat teknologi saya dapat melakukan panggilan video ke orang tua saya setiap hari selama Ramadhan,” pungkasnya.

Industri Pariwisata Indonesia Akan Bangkit pada Tahun 2021

ilustrasi (foto: Phinemo)

MTN, Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan kalau dunia pariwisata Indonesia akan bangkit pada tahun 2021.

Dilansir dari Detik, Jokowi meyakini bakal ada lonjakan di sektor pariwisata pada tahun 2021. Ia juga optimistis wabah virus Corona (COVID-19) di Indonesia bisa selesai pada akhir 2020.

“Saya meyakini ini (pandemi Corona di Indonesia) hanya sampai akhir tahun. Tahun depan booming di pariwisata,” ujar Jokowi dalam pengantar rapat terbatas mitigasi dampak COVID-19 terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, Kamis (16/4).

Menurut Jokowi, setelah wabah COVID-19 hilang, dipastikan akan ada hasrat besar dari masyarakat untuk berlibur. Apalagi setelah semua orang berdiam diri di rumah dalam jangka waktu yang lama.

“Semua orang ingin menikmati kembali keindahan daerah yang ada pariwisatanya, sehingga optimisme itu yang harus diangkat,” ujar Jokowi.

Saat ini dampak COVID-19 sangat dirasakan oleh sektor pariwisata. Jokowi meminta adanya program mitigasi perlindungan sosial bagi pekerja di sektor pariwisata, serta realokasi anggaran di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), untuk para pekerja di bidang pariwisata.

“Kemudian juga harus ada realokasi anggaran dari Kementerian Pariwisata (dan Ekonomi Kreatif), yang diarahkan dalam wujud semacam program padat karya tunai bagi pekerja-pekerja bergerak di bidang pariwisata,” kata Jokowi.

Bentuk Dukungan untuk Lawan Corona, Ratusan Masjid di Eropa Kumandangkan Azan

ilustrasi (gambar: bahrulmaghfiroh.com)

MTN, Jakarta – Dalam rangka bentuk dukungan solidaritas untuk lawan virus Corona, ratusan masjid di Jerman dan Belanda kumandangkan azan. Seperti apa?

Dilansir dari Republika, hampir 100 masjid di Jerman dan Belanda melantunkan azan pada hari Jumat pekan pertama April 2020, sebagai bentuk dukungan kepada umat Islam di negara mereka yang tengah dilanda pandemi virus corona.

Azan tersebut dilantunkan dari dua masjid yang berada di bawah naungan Islamic National View dan Asosiasi Muslim Turki (DITIB).

Seorang perwakilan dari DITIB, Fahrettin Alptekin, mengatakan kepada Anadolu Agency, bahwa azan dapat didengar di lebih dari 50 masjid lokal.

Menurut Alptekin, umumnya suara azan yang dikumandangkan melalui pengeras suara masjid dilarang di Jerman, kecuali jika ada acara khusus.

Jerman sendiri diketahui merupakan salah satu negara di Eropa yang terdampak Covid-19 cukup parah.

Sementara itu, di Belanda suara azan juga berkumandang secara luas melalui pengeras suara sebagai bentuk solidaritas untuk melawan pandemi virus corona.

Strategi Pariwisata Indonesia Agar Bisa Bangkit Pasca Corona

ilustrasi (foto: matamatapolitik.com)

MTN, Jakarta – Wabah global virus Corona memang berdampak buruk bagi pariwisata dunia dan Indonesia khususnya. Tapi apa saja strategi agar pariwisata lokal bisa bangkit jika wabah Covid-19 telah berlalu?

Dilansir dari Republika, Taufan Rahmadi, salah satu pelaku di industri pariwisata, yang juga pendiri dari komunitas Temannya Wisatawan, mengusulkan tujuh kebijakan yang perlu diambil oleh pemerintah agar bisa memulihkan industri pariwisata jika wabah Corona telah berlalu.

Tujuh kebijakan yang perlu diambil oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, untuk meminimalisir dampak negatif terhadap Pariwisata Indonesia dari mewabahnya virus corona. Tujuh rekomendasi ini didasarkan pada dampak yang sudah terjadi, baik dalam skala global atau nasional.

Dampak secara global

Berdasarkan data World Travel and Tourism Council, WTTC, dampak yang nyata pada sektor perjalanan dan pariwisata akibat wabah Corona adalah berpotensi mengakibatkan 50 juta orang di seluruh dunia kehilangan pekerjaan.

Dampak secara nasional

a. Sektor Pariwisata

Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI), memprediksi potensi kerugian industri pariwisata Indonesia akibat wabah virus corona COVID-19 mencapai 1,5 milliar dolar AS atau setara dengan Rp 21 triliun.

b. Sektor Ekraf UMKM

Berdasarkan data yang diolah P2E LIPI, dampak penurunan pariwisata terhadap UMKM yang bergerak di usaha makanan dan minuman (mamin) mikro mencapai 27%. Sedangkan, dampak terhadap usaha kecil makanan minuman sebesar 1,77% dan usaha menengah di angka 0,07%.

Pengaruh virus corona terhadap unit usaha kerajinan dari kayu dan rotan, usaha mikro akan berada di angka 17,03%. Untuk usaha kecil di sektor kerajinan kayu dan rotan 1,77% dan usaha menengah 0,01%. Sementara itu, konsumsi rumah tangga juga akan terkoreksi antara 0,5% hingga 0,8%.

Padahal, UMKM memegang peranan penting dalam struktur perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Bank Indonesia, pada 2016 sektor UMKM mendominasi 99,9% unit bisnis di Indonesia. Dari angka tersebut, jenis usaha mikro paling banyak menyerap tenaga kerja hingga 87%.

Tingkat kecepatan dan ketepatan dari berbagai negara seperti Singapura, Malaysia ataupun New Zealand di dalam menerapkan kebijakan – kebijakan pemulihan pariwisatanya di dalam menghadapi pendemi ini dijadikan pula sebagai tolak ukur di dalam menyusun rekomendasi ini.

Sebagai contoh, Singapura telah mengeluarkan kebijakan sertifikasi SG Clean , kebijakan ini ditujukan untuk meningkatkan standard kebersihan publik ditengah wabah virus corona, SG Clean ini diperuntukkan untuk sektor bisnis pariwisata, ritel, dan layanan makanan, dan untuk mendapatkan sertifikasi ini harus memenuhi persyaratan tertentu yang sangat ketat dari lembaga yang ditunjuk.

Dan ternyata kebijakan ini terbukti mampu berangsur-angsur meningkatkan kepercayaan dari pelanggan/wisatawan terhadap kualitas layanan kebersihan yang diberikan selama mereka berwisata.

Oleh karena itu dengan memperhatikan hal-hal tersebut diatas, TW menggaris bawahi kebijakan-kebijakan pariwisata yang perlu untuk diperkuat, antara lain:

01. Dukungan kepada Industri dan pelaku parekraf

Tentang dukungan kepada industri/pelaku parekraf berupa: pembebasan biaya BPJS, pengurangan biaya listrik, air, sewa, keringanan restribusi pajak pemda, relaksasi peminjaman bank, dst

Adalah penting untuk segera disosialisasikan terkait petunjuk teknis serta penetapan waktu yang pasti dari kapan kebijakan ini mulai berlaku.

Karena hingga kini masih ditemukan dilapangan kebijakan yang sudah dicanangkan dipusat tapi belum tersosialisasi dan terimplementasi dengan baik di daerah.

02. Dukungan Anggaran

Tentang Dukungan Kemenparekraf (Realokasi Anggaran) yang terkait kerja sama dengan pihak hotel, pihak perusahaan transportasi wisata, pihak perusahaan makanan dan minuman.

Adalah perlu untuk dijelaskan kepada publik bentuk kerja sama yang akan dilakukan, apakah murni seperti layaknya pengadaan barang dan jasa (kontrak bisnis) atau murni bentuk kepedulian sosial dari para pemilik bisnis tersebut yang dilakukan sebagai bentuk sumbangsih untuk negeri yang sedang berada ditengah krisis ini.

03. Subsidi Pendidikan Pariwisata

Yang juga tidak boleh dilupakan adalah pentingnya subsidi kepada para pelajar/mahasiswa yang saat ini sedang menuntut ilmu di sekolah-sekolah tinggi pariwisata baik negeri ataupun swasta di Indonesia, di mana sebagaimana kita maklumi bahwa banyak dari pelajar/mahasiswa ini terancam tidak bisa melanjutkan pendidikannya dikarenakan usaha yang dimiliki orang tuanya jatuh dikarenakan dampak corona.

04. Penguatan SOP Mitigasi Pariwisata

Berkaca dari banyak kejadian bencana alam, force majeur yang terjadi di Indonesia seperti gempa bumi, gunung api meletus dan saat ini wabah penyakit, maka kebutuhan akan segera diperkuatnya SOP Mitigasi Pariwisata Indonesia yang mengacu pada standardisasi yang diberikan UNWTO dan WHO adalah sangat penting.

Langkah strategi dari Kemenparekraf di saat fase pemulihan adalah sangat krusial untuk disiapkan sejak dini, agar pada saat wabah ini mereda kemenparekraf sudah tidak lagi berbicara tentang merancang strategi pemulihan, tapi tinggal melaksanakannya.

05. Prioritas pada pembenahan destinasi

Terkait kenyamanan di destinasi wisata, Indonesia masih banyak memiliki PR yang harus dikerjakan, seperti misalnya issue kebersihan, keamanan, kesehatan, pelestarian lingkungan, regulasi daerah, layanan wisata halal dan lain sebagainya.

Ini tidak saja membutuhkan anggaran yang banyak tetapi juga pendampingan yang intensif, sehingga pembenahan destinasi yang dilakukan sesuai dengan standard global manajemen destinasi pariwisata yang berkelanjutan.

06. Meningkatkan peran pokdarwis di desa wisata sebagai tim gugus desa yang dibina oleh Kemenparekraf

Pokdarwis perannya seringkali dikesampingkan di dalam pengembangan pariwisata, padahal kelompok ini beranggotakan anak – anak muda kreatif yang peduli akan kemajuan pariwisata di desanya.

Peningkatan peran dari Pokdarwis yang tersebar di seluruh desa wisata diharapkan dapat menjadi agen perubah , motor penggerak masyarakat dalam membangun industri kreatif di desa, sekaligus menginisiasi gerakan bersama menjaga destinasi pariwisata.

07. Penguatan Regulasi masuknya Wisatawan Mancanegara

Mengambil pengalaman dari kasus corona, wisatawan dari negara/daerah yang sudah pernah atau rentan terkena wabah penyakit harus melalui seleksi yang sangat ketat untuk mendapatkan izin masuk/visa ke Indonesia.

Kebijakan bebas visa kunjungan dari negara-negara tersebut harus ditinjau kembali demi lebih berkualitasnya wisatawan mancanegara yang masuk berlibur ke Indonesia.

Tujuh rekomendasi di atas adalah wujud dari harapan agar Pariwisata Indonesia bisa segera bangkit di tengah pendemi ini,

Terobosan strategi dan kecepatan implementasi adalah kunci dari kemenangan kita dalam pertarungan melawan virus corona ini.

Wisata Halal Dinilai Dapat Pulihkan Industri Pariwisata Pasca Wabah Corona Berakhir

ilustrasi (foto: qubiz.net)

MTN, Jakarta – Wabah virus Corona saat ini memang merontokkan segala sendi industri pariwisata global. Namun agen wisata asal Jakarta, Adinda Azzahra Group, meyakini kalau wisata halal dapat pulihkan industri pariwisata pasca wabah Corona berakhir nanti.

Dilansir dari Republika, wabah virus corona saat ini berdampak kepada berbagai sektor, termasuk pariwisata. Banyak perjalanan wisata yang dibatalkan dan minat masyarakat untuk berwisata pun menurun.

Meskipun begitu, rasa optimistis akan geliat wisata masih dimiliki oleh pelaku industri wisata. Direktur Utama Adinda Azzahra Group, Priyadi Abadi, optimistis kalau industri wisata akan membaik setelah pandemi virus corona ini selesai.

Menurut Priyadi pada awal Maret 2020 ini, pemulihan wisata akan semakin baik dengan menggunakan metode wisata halal.

Priyadi mengatakan kalau tren wisata halal juga semakin berkembang di berbagai negara. Oleh karena itu, ia yakin kalau wisata halal bisa menjadi lokomotif utama dalam memulihkan kembali geliat pariwisata.

Ini Dia Tiga Objek Wisata Islami di Bali

MTN, Jakarta – Meski Bali dikenal sebagai daerah wisata pantai, ternyata wilayah tersebut juga memiliki sejumlah objek wisata Islami. Apa saja?

Seperti yang dilansir dari PanduAsia, berikut adalah tiga objek wisata Islami yang ada di Bali:

Masjid Al Hidayah Bedugul (foto: Bali Go Private tour)

Masjid Al Hidayah Bedugul

Keberadaan komunitas-komunitas muslim di daerah Bedugul ditambah banyaknya wisatawan beragama Islam yang berkunjung ke Pura Ulun Danu Beratan, menjadikan masyarakat di kawasan Bedugul merasa perlu untuk mendirikan tempat ibadah dan lembaga pendidikan bernuansa Islam.

Sehingga berdirilah pondok pesantren, Madrasah Aliyah serta sebuah masjid yang semuanya diberi nama “Al Hidayah”.

Selain itu, untuk menopang biaya operasional lembaga pendidikan, didirikanlah wisata agro stroberi yang dikelola oleh Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Pondok Pesantren Hidayah Bali.

Bagi wisatawan muslim yang berkunjung ke Pura Ulun Danu, nikmati pula aktifitas berwisata agro stroberi. Karena selain menghadirkan keasyikan tersendiri, wisatawan juga ikut membantu keberlangsungan Pondok Pesantren dan Madrasah Aliyah Al Hidayah.

Wisatawan juga jangan lupa untuk singgah ke Masjid Al Hidayah yang berlokasi di JL Candi Kuning, berseberangan dengan Danau Beratan yang menjadi lokasi dari Pura Ulun Danu. Masjid yang cukup megah dengan desain indah yang dipengaruhi gaya arsitektur Bali ini dibangun di lereng bukit, sehingga untuk mencapai lokasi masjid harus berjalan kaki menapaki anak tangga yang panjang dan tinggi.

Sesampainya di pelataran akan terlihat bangunan masjid berlantai dua yang berdiri dengan gagah. Pengunjung yang berada di sini, tidak hanya dapat menikmati bangunan masjid yang indah, tapi juga eloknya landsekap Danau Beratan dengan Pura Ulun Danu yang ada di kejauhan.

Bila kita lihat jarak dari Masjid Al Hidayah menuju Danau Beratan dan Ulun danu Beratan tidak terlalu berjauhan.hanya dengan berjalan kaki selama kurang lebih 11 Menit kita sudah bisa mencapai ketiga Lokasi tersebut.

Masjid Nurul Huda di Kampung Gelgel, Bali (foto: Google Street View)

Kampung Gelgel dan Masjid Nurul Huda

Bagi wisatawan yang ingin napak tilas sejarah masuknya Islam ke Pulau Bali, wajib untuk berkunjung ke Kampung Gelgel yang ada di Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung, karena Gelgel merupakan kampung Islam pertama di Bali dan di kampung ini terdapat masjid bernama Masjid Nurul Huda yang juga masjid pertama di Bali.

Sejarah masuknya Islam ke Pulau Bali berawal dari ekspansi Kerajaan Majapahit yang berhasil menaklukkan Kerajaan Bendahulu pada tahun 1343 M, sehingga Bali sepenuhnya dikuasai oleh Kerajaan Majapahit. Untuk mengatur pemerintahan di Bali, Mahapatih Gajah Mada untuk sementara waktu menunjuk Ki Patih Wulung dan pusat pemerintahan selanjutnya dipindah ke Gelgel oleh Patih Wulung.

Usai penaklukan tersebut Bali mengalami kekosongan pimpinan selama beberapa tahun sebelum akhirnya Gajah Mada menunjuk Sri Aji Kresna Kapakisan yang memiliki garis keturunan dari Raja Airlangga untuk menjadi penguasa di Bali.

Kedatangan Sri Aji Kresna ke Bali sekitar tahun 1357 M dikawal prajurit-prajurit pilihan dan empat puluh diantaranya beragama islam. Para prajurit yang beragama Islam itulah yang selanjutnya mendiami sebuah perkampungan dan mendirikan masjid yang diberi nama “Nurul Huda”.

Masjid tersebut hingga kini masih berdiri kokoh meskipun sudah berdiri sejak abad XIV. Renovasi memang pernah dilakukan beberapa kali, namun sebatas renovasi ringan tanpa sedikitpun merubah bentuk bangunan yang asli, termasuk menara setinggi 17 meter.

Di masjid ini juga dapat dilihat sebuah mimbar tua berbahan kayu jati yang tidak lapuk sedikitpun meskipun sudah berumur ratusan tahun.

Desa Pegayaman, Bali (foto: Roy Teguh Musa)

Desa Pegayaman

Satu lagi kampung Islam di Bali yang menarik untuk dikunjungi adalah Desa Pegayaman yang ada di Kabupaten Buleleng yang jaraknya sekitar 65 km dari Kota Denpasar dan sekitar 9 km dari Kota Singaraja.

Di sini terdapat suku atau etnik yang bernama Nyama Selam yang menganut agama Islam namun dalam kesehariannya tetap menjalankan tradisi lokal sebagaimana penduduk Bali pada umumnya.

Dalam bahasa Bali ‘Nyama’ memiliki arti ‘saudara’ sedang ‘selam’ artinya ‘Islam’. Sehingga arti dari Nyama Selam adalah saudara (dari Orang Bali) yang memeluk agama Islam. Sebutan tersebut mengindikasikan adanya toleransi, karena orang-orang Bali yang beragama Hindu menyebut mereka yang beragama Islam dengan sebutan ‘saudara’, begitu juga yang beragama Islam menyebut orang Bali Hindu dengan sebutan ‘Nyama Bali’.

Etnis Nyama Selam konon merupakan campuran dari tiga etnis berbeda, yaitu Bali, Jawa dan Bugis. Percampuran ketiga etnis tersebut terjadi setelah melewati sejarah yang panjang. Diawali dengan penaklukan Kerajaan Blambangan di Banyuwangi oleh Kerajaan Buleleng dengan Rajanya Ki Barak Panji Sakti sekira abad XVI.

Penaklukan Kerajaan Blambangan yang kala itu menjadi bagian dari Kerajaan Mataram, terdengar hingga ke Mataram. Penguasa Mataram yang tidak ingin perang terus berlanjut, meminta untuk dilakukan gencatan senjata. Sebagai bentuk penghormatan, Raja Mataram menghadiahi Barak Panji seekor kuda beserta delapan patih yang beragama Islam.

Setelah pulang kembali ke Bali, delapan patih tersebut ditempatkan di Banjar Jawa dan bertugas membantu Kerajaan Buleleng dalam peperangan. Itu sebabnya saat Kerajaan mengwi yang ada di Tabanan menyerang, kedelapan patih tersebut bahu membahu dengan pasukan Kerajaan Buleleng untuk mengusir penyerang hingga akhirnya prajurit Kerajaan Mengwi berhasil ditaklukkan.

Atas jasa-jasanya itulah kedelapan patih dihadiahi lahan di perbatasan Buleleng dan salah seorang patih dihadiahi seorang gadis yang merupakan keturunan Raja Buleleng untuk dinikahi. Sehingga terjadilah percampuran etnis antara Jawa dan Bali.

Di waktu yang berbeda, tepatnya sekitar tahun 1850-an, Raja Hasanuddin yang melakukan ekspedisi laut dari Sulawesi menuju Jawa, kapalnya dihantam ombak dan terdampar di perairan Buleleng. Pasukan Bugis tersebut kemudian menghadap dan meminta pertolongan Raja Buleleng.

Permintaan tersebut dikabulkan oleh Ki Barak Panji Sakti dan mempersilahkan oarang-orang Bugis tersebut untuk memilih, apakah akan tinggal di pesisir laut atau tinggal di desa Pegayaman yang warganya menganut agama yang sama dengan mereka yaitu agama Islam.

Sebagian dari pasukan Hasanuddin itu memilih tinggal di pesisir pantai, sebagian lainnya memilih tinggal di Pegayaman. Kedatangan orang-orang Bugis itulah yang membuat terjadinya percampuran etnis antara Bugis, Bali dan Jawa.

Wisata Halal Juga Picu Perkembangan Produk Halal

ilustrasi (gambar: Suara Islam)

MTN, Jakarta – Perkembangan wisata halal ternyata beriringan juga dengan produk-produk halal. Seperti apa?

Kesadaran masyarakat lokal akan produk halal terus meningkat sejalan dengan perkembangan industri wisata halal (halal tourism) yang kian menggeliat.

Demikian dikatakan oleh Chairman of Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF), H. Priyadi Abadi, M. Par, dalam acara diskusi “Grand Opening Adinda Azzahra” di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, awal Maret ini, seperti yang dilansir dari Mina News.

Mengutip data yang dipublikasikan MasterCard-CrescentRating pada tahun 2019 lalu, Priyadi mengatakan, grafik pertumbuhan jumlah wisatawan Muslim (di luar Haji dan Umroh) di dunia terus mengalami kenaikan.

“Tercatat pada 2014 jumlah wisatawan Muslim ada sekira 108 juta jiwa, di tahun 2016 naik menjadi 121 juta jiwa, dan pada 2018 lalu meningkat menjadi 140 juta jiwa. Pada 2020 ini diproyeksikan jumlah wisatawan Muslim dunia akan mencapai 160 juta jiwa,” ujar Priyadi.

Menurutnya, kontribusi sektor wisata halal terhadap perekonomian global pada 2020 ini diprediksi mencapai angka US$220 miliar.

Sementara pada tahun 2026 nanti, kontribusi sektor pariwisata halal diperkirakan melonjak hingga ke angka 35% atau US$300 miliar.

Ia menambahkan, wisatawan muslim secara global diprediksi akan mengalami kenaikan menjadi 230 juta jiwa, yang merepresentasikan lebih dari 10 persen total wisatawan global secara keseluruhan.

Sejauh ini potensinya telah digarap oleh negara-negara Muslim. Berdasarkan Global Muslim Travel Index (GMTI) 2019, Indonesia bersama Malaysia keluar sebagai juara destinasi wisata ramah Muslim (muslim friendly) di antara negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dengan skor 78.

Di posisi berikutnya Turki, Arab Saudi, Uni Emirat Arab di peringkat tiga, keempat, dan kelima. Qatar (peringkat enam), Maroko (peringkat tujuh), Bahrain (peringkat delapan), Oman (peringkat delapan), dan Brunei (peringkat sepuluh).

Bangka Belitung Diproyeksikan jadi Destinasi Wisata Halal

Mesjid Raya Tuatunu di Bangka Belitung

MTN, Jakarta – Provinsi Bangka Belitung diproyeksikan untuk jadi destinasi wisata halal dunia. Seperti apa?

Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berkomitmen untuk jadikan Babel sebagai destinasi wisata halal dunia, sebagai upaya mempercepat pertumbuhan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat daerah.

Dilansir dari Antara, Gubernur Babel, Erzaldi Rosman Djohan, sudah berkomitmen untuk menjadikan negeri laskar pelangi itu sebagai daerah wisata dan industri kecil menengah halal.

Komitmen dari Erzaldi itu sudah mendapatkan dukungan penuh dari Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia, Ma’ruf Amin, dan pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Bangka Belitung tidak hanya memiliki keindahan alam yang eksotik, tetapi juga kuliner yang enak, serta kebudayaan melayu yang kuat,” kata Ma’ruf Amin.

Ma’ruf Amin mengatakan, konsep wisata halal tersebut tidak akan mengganggu objek wisata dan umat nonmuslim lainnya di Bangka Belitung. Wisata halalnya harus mengacu pada aturan hidup umat Islam, baik di sisi adab mengadakan perjalanan, menentukan tujuan wisata, akomodasi, hingga ke konsumsi makanan.

“Penerapan syariah dalam wisata halal ini tidak perlu mengubah destinasi wisata yang sudah ada. Hanya saja, standar pelayanannya ditingkatkan agar mampu membuat nyaman wisatawan. Para pengelola juga harus memastikan aneka kuliner halal, tersedia tempat wudu dan salat yang nyaman, dan berbagai fasilitas lainnya,” ujar Ma’ruf.

Selain itu, Wakil Ketua Umum MUI Pusat, KH Muhyiddin Junaidi, juga mendorong Pemprov Babel untuk mengembangkan wisata halal di daerah mereka.

Taiwan Genjot Program Wisata Ramah Muslim

Taipei Grand Mosque

MTN, Jakarta – Taiwan kini sedang menggenjot program wisata ramah muslim di negaranya. Seperti apa?

Dilansir dari TribunNews, Director General Taipei Economic and Trade Office in Surabaya, Lin Dean-Shiang, saat sambutan di acara Taiwan Tourism Workshop di Sheraton Surabaya Hotel, pada akhir Februari 2020 kemarin, mengatakan bahwa negaranya kini tengah menggencarkan promosi wisata halal di Taiwan.

“Pemerintah Taiwan melalui delegasi pariwisatanya kini sedang menggencarkan promosi mengenai wisata halal di Taiwan,” ungkap Lin Dean-Shiang.

Lin juga mengatakan kalau pada tahun 2020 ini, Taiwan mengangkat tema pariwisata pegunungan yang dipadankan dengan wisata kota kecil klasik.

“Dalam promosi pariwisata tersebut, Pemerintah Taiwan ingin memberikan pelayanan terbaik bagi para turis asing yang datang, terutama wisatawan muslim,” jelas Lin Dean-Shiang.

“Kami memang tengah menggencarkan program wisata halal yang ramah terhadap wisatawan muslim. Seperti membangun musala di stasiun kereta api atau tempat publik lainnya,” kata Lin.

Dibangunnya musala di beberapa fasilitas umum tersebut menurut Lin, Dean-Shiang bertujuan untuk memudahkan para wisatawan muslim untuk beribadah.

Menurutnya, selama ini wisatawan muslim masih kesulitan mencari lokasi ibadah di lokasi umum.

Selain memperbanyak tempat ibadah muslim, pihak Pemerintah Taiwan juga memberikan kemudahan mencari makanan halal.

“Di Taiwan saat ini sudah banyak sekali makanan-makanan halal yang bisa dinikmati wisatawan muslim tanpa perlu khawatir. Jadi mereka tidak akan kesulitan mencari makanan halal,” Lin, Dean-Shiang memaparkan.

Menurutnya, upaya tersebut dilakukan untuk semakin menarik kunjungan wisatawan dari negara yang berpenduduk mayoritas muslim seperti Indonesia.

Lin, Dean-Shiang mengatakan, pihaknya ingin menjamin kenyamanan para wisatawan muslim yang berkunjung ke Taiwan dengan program wisata halal tersebut.