Azerbaijan Will Host Halal Business and Tourism Forum 2024


MTN, Baku – Azerbaijan will host halal business and tourism forum, next year. What will it be like?

Reported from, an MOU for Azerbaijan Halal Business and Tourism Forum 2024 just signed.

This Memorandum of Understanding on organization of the Azerbaijan Halal Business and Tourism Forum was signed within the framework of the 35th meeting of the Board of Directors of the Islamic Chamber of Commerce, Industry and Agriculture (ICCIA).

The signing of the Memorandum of Understanding took place at the opening ceremony of the 35th meeting of the Board of Directors of the Islamic Chamber of Commerce, Industry and Agriculture held in Baku. The document was sealed by Orkhan Mammadov, the Chairman of the Board of the Small and Medium Business Development Agency of the Republic of Azerbaijan (KOBIA), Fuad Nagiyev, the Chairman of the State Tourism Agency, Marat Kabayev, the President of the International Association of Islamic Business, Yusif Khalavi, the Secretary General of ICCIA, and Bahruz Hidayatzade, the executive director of “Caspian Event Organizers” LLC.

The Memorandum of Understanding regulates joint activity on issues related to the organization of Azerbaijan Halal Business and Tourism Forum in 2024, as well as mutual cooperation on the implementation of joint projects.

Caspian Event Organisers LLC (CEO) is the organiser of a series of annual international exhibitions and conferences in Azerbaijan.

The scale and importance of the events arranged, including the “ADEX” Azerbaijan International Defence Exhibition, “Caspian Agro” Azerbaijan International Agriculture Exhibition, “InterFood Azerbaijan” Azerbaijan International Food Industry Exhibition, “AITF” Azerbaijan International Tourism and Travel Exhibition, “BakuBuild” Azerbaijan International Construction Exhibition, “TransLogistica Caspian” Caspian International Transport, Transit and Logistics Exhibition and others indicates the high professionalism of the services provided by CEO.

Dr. Firdaus Fanny Putera Perdana in LinkedIn, analyzing Azerbaijan’s halal industry potential, using S.W.O.T (Strengths – Weakness – Opportunities – Threats) method. Here is his analysis.

Azerbaijan, a nation with a rich history and a significant presence in the global oil market, is embarking on a strategic journey with its Halal industry potential. This comprehensive initiative represents a pivotal shift toward economic diversification, steering the country beyond its traditional reliance on the oil sector. Leveraging its stable economy, favorable climate, and commitment to ongoing reforms, Azerbaijan is positioning itself for sustained economic development, increased trade engagement, and the flourishing of its Halal industry. This multifaceted approach not only ensures the nation’s long-term economic stability but also strengthens its resilience in the face of global uncertainties.


Azerbaijan boasts several strengths that form the foundation of its Halal industry potential. The country’s stable economy, characterized by price stability, provides a conducive environment for business growth and investment. The favorable climate for agriculture and livestock further supports the development of a robust Halal industry.

Rich resources for Muslim-friendly tourism, combined with the growth in the transport and communication sectors, present opportunities for diversification. The Caspian Sea, a strategic asset, contributes to fishing and caviar production, adding another dimension to Azerbaijan’s economic potential. Strong political stability and commitment, along with key infrastructure projects such as new ports and railways, reinforce the nation’s capabilities.


Despite the strengths mentioned above, Azerbaijan faces certain weaknesses that require strategic attention. The delayed privatization of major firms, coupled with a lingering reliance on oil revenues for exports and budget, poses challenges to economic diversification. Customs procedures present obstacles, and infrastructure gaps with outdated technologies need addressing.

The underdeveloped financial sector for Islamic banking and existing sectorial monopolies underscore the need for comprehensive reforms. Regional development disparities and transportation barriers between regions demand targeted interventions to ensure inclusive growth.


Azerbaijan’s Halal industry potential aligns with a spectrum of opportunities that can catalyze its economic transformation. Increased foreign investment in non-oil sectors is a key avenue for diversification, offering the potential for sustainable growth. The nation’s commitment to deepening integration into the global economy positions it as an attractive partner for international trade.

Azerbaijan’s strong transition to a free-market economy enhances its competitiveness, while its strategic location at trade and historical crossroads opens up avenues for value-added opportunities in logistics and free economic zones. Participation in North-South transport corridors connecting Iran, Russia, and Europe, as well as a crucial role in China-Europe trade via the Silk Road, positions Azerbaijan at the center of evolving global trade dynamics.


Amidst the opportunities, Azerbaijan faces certain threats that require careful navigation.

The absence of direct access to the sea and ocean limits maritime trade options, emphasizing the importance of optimizing existing transportation routes. Strong competition in the corridor, including alternatives like the Trans-Siberian – Kazakhstan and sea freights, as well as the combination of railways in Iran and Turkmenistan, underscores the need for strategic planning to maintain Azerbaijan’s competitiveness.


Ultimately, Azerbaijan’s Halal Masterplan represents a bold and strategic initiative poised to propel the nation into a new era of economic diversification and growth. The strengths of a stable economy, favorable climate, and rich resources, combined with opportunities for increased global integration, position Azerbaijan for sustainable development. However, addressing weaknesses and navigating threats, including geopolitical challenges and regional competition, is crucial for the successful implementation of the Halal industry initiatives. As Azerbaijan embraces this multifaceted approach, it sets the stage for long-term economic stability and resilience in an ever-evolving global landscape.

Indonesia Berencana Buka Penerbangan Langsung ke Azerbaijan

ilustrasi (foto:

MTN, Jakarta – Indonesia berencana buka penerbangan langsung ke Azerbaijan. Seperti apa?

Dilansir dari Antara, Duta Besar Azerbaijan untuk Indonesia, Jalal Mirzayev, mengatakan bahwa Indonesia berencana membuka penerbangan langsung ke Azerbaijan. “Sekarang kami sedang mengerjakan pembukaan penerbangan langsung Jakarta-Baku,” kata Mirzayev dalam acara peringatan Hari Kemerdekaan Azerbaijan di Jakarta, Kamis pekan lalu (25/5).

Mirzayev juga mengatakan pihaknya sedang memeriksa penawaran penerbangan langsung dari beberapa perusahaan maskapai penerbangan. “Kami sedang dalam proses memeriksa semua penawaran yang datang dari maskapai penerbangan, seperti (dari) Qatar Airways, Turkish Airlines, serta Emirates,” ujarnya.

Dubes juga menyebutkan bahwa Indonesia dan Azerbaijan bisa bekerja sama dalam sektor pariwisata halal. “Kami berencana mengundang turis dari Jawa Barat datang ke Azerbaijan untuk mengunjungi Muslim Pilgrimage (Ziarah Muslim),” kata Dubes.

Mengenai hubungan bilateral antara Indonesia dan Azerbaijan, Mirzayev mengatakan bahwa hubungan kedua negara sangat baik. Dubes juga menyebutkan bahwa tahun 2022, Indonesia dan Azerbaijan memperingati 30 tahun hubungan diplomatik, dan Azerbaijan menganggap Indonesia sebagai mitra ekonomi dan politik yang penting. “Kami merasa sangat terhormat dengan kehadiran Menteri Transportasi (Menteri Perhubungan RI) datang ke acara kami. Menurut saya, hubungan antara Indonesia dan Azerbaijan sekarang sudah dalam tingkat tinggi,” ujar Mirzayev.

Senada dengan Dubes Azerbaijan, Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi mengatakan bahwa Indonesia dan Azerbaijan memiliki hubungan yang baik dan berharap persahabatan antara kedua negara dapat ditingkatkan. “Kita tahu, masing-masing memiliki potensi. Oleh karenanya, tadi saya sampaikan bahwa kita tumbuh dengan bagus, tapi kita juga ingin perdagangan antara Azerbaijan dengan Indonesia ditingkatkan.” kata Budi.

Menteri Budi juga berharap agar Azerbaijan bisa menjadi negara penting di dunia. Mengenai penerbangan langsung Jakarta-Baku, Menteri Budi mengatakan akan membuat nota kesepahaman (MoU) terlebih dahulu.

“Tinggal kita buat semacam MoU (memorandum of understanding) dulu, nanti baru kita terjemahkan dalam pesawat apa yang akan terbang, apakah dari Azerbaijan atau Indonesia,” kata Menteri Budi. Republik Azerbaijan didirikan oleh Dewan Nasional Azerbaijan di Tiflis pada 28 Mei 1918 setelah runtuhnya Kekaisaran Rusia yang dimulai dengan Revolusi Rusia tahun 1917. Tahun ini, Azerbaijan memperingati 105 tahun kemerdekaan negara tersebut.

Azerbaijan Tata Kembali Masjid-masjid Rusak di Karabakh Setelah 28 Tahun di Genggaman Armenia

Armenia rusak 90% masjid di wilayah Karabakh (foto: /

MTN, Jakarta – Pada 8 November 2020, pihak Azerbaijan merebut kembali kota Shusha, Nagorno-Karabakh, setelah selama 28 tahun wilayah tersebut berada di cengkraman wilayah Armenia. Pihak Azerbaijan pun akan mulai memperbaiki masjid-masjid yang rusak selama perang.

Dilansir dari Jernih, sebanyak 67 masjid di Nagorno-Karabakh dan distrik yang berdekatan dengan Azerbaijan yang dihancurkan oleh pasukan Armenia dalam konflik Nagorno-Karabakh. Total ada 63 mesjid hancur seluruhnya dan empat masjid yang hancur sebagian,

Jumlah mesjid yang hancur tersebut dilaporkan oleh Azerbaijan National Academy of Sciences (ANAS) yang melakukan pendataan di bawah pengawasan UNESCO.

Pendataan dilakukan setelah pasukan Armenia menyerah pada 8 November 2020 dan menyerahkan semua kendali Nagorno-Karabakh kepada Azerbaijan. Pendataan tersebut dilakukan atas kerjasama Dana Internasional untuk Budaya dan Warisan Turki, ANAS dan Komisi Nasional Azerbaijan, UNESCO.

Ketua Persatuan Publik untuk Perlindungan Monumen Sejarah dan Budaya, melaporkan kalau ada sekitar 215 monumen sejarah dan budaya di kota Shusha yang telah rusak.

Faig Ismayilov, ketua Persatuan Publik untuk Perlindungan Monumen Sejarah dan Budaya di Wilayah Pendudukan Azerbaijan, mengatakan kalau pihak Institut Hukum dan Hak Asasi Manusia ANAS mencatat ada banyak monumen sejarah dan budaya yang rusak. Di antaranya: di kota Shusha 215 monumen, di kota Jabrayil dan kota Khojavend masing-masing 93, di kota Aghdam 140, kota Gubadly dan Fuzuli masing-masing 71, di kota Kalbajar 91, distrik Lachin 74, kota Zangilan 56, dan kota Khojaly ada 28 buah.

Kerusakan monumen akibat penjarahan benda-benda budaya yang bernilai sejarah warisan budaya Azerbaijan diperkirakan dijual oleh orang Armenia ke luar negeri. Nilainya diperkirakan mencapai miliaran dolar dan berpotensi digunakan untuk membiayai kegiatan perang.

Ismayilov menyebutkan Azerbaijan akan membangun dan memperbaiki kembali mesjid runtuh maupun yang rusak sebagian.

Perang Nagorno-Karabakh 2020 adalah konflik bersenjata yang sedang berlangsung antara pasukan bersenjata dari Azerbaijan dan Armenia di Nagorno-Karabakh, selama ketegangan terbaru dalam konflik Nagorno-Karabakh yang tak kunjung reda. Bentrokan dimulai pada pagi hari tanggal 27 September 2020 di sepanjang Garis Kontak Nagorno-Karabakh.

Perang Nagorno-Karabakh berlangsung semenjak tahun 1988. Pihak Armenia menyebutnya sebagai Perang Kemerdekaan Artsakh.

Nagorno-Karabakh (penduduk Armenia sering kali menyebut wilayah ini dengan nama Artsakh) adalah sebuah wilayah yang terletak di bagian selatan Kaukasus, tepatnya 270 km sebelah barat Baku, ibu kota Azerbaijan. Wilayah ini dihuni oleh mayoritas etnik Armenia, dan dikuasai oleh militer Armenia.

Penduduk etnik Armenia setempat memproklamasikan kemerdekaan Republik Nagorno-Karabakh dari Azerbaijan pada 10 Desember 1991, tetapi kedaulatan republik tersebut tidak diakui oleh dunia internasional dan wilayah tersebut secara de jure dianggap sebagai bagian dari Azerbaijan.

Tonton video momen perayaan warga Azerbaijan ketika Nagorno-Karabakh kembali direbut dari tangan Armenia pada 8 November 2020, via saluran YouTube milik tvOneNews.

Potensi Wisata Muslim di Wilayah Azerbaijan yang baru Dibebaskan dari Genggaman Armenia

Masjid Agdam yang terbengkalai saat dikuasai oleh Armenia

MTN, Jakarta – Kini Azerbaijan memiliki potensi wisata baru, yakni masjid Agdam, yang sempat terbengkalai semenjak wilayah Azerbaijan tersebut dicaplok oleh pihak Armenia semenjak tahun 1993.

Dilansir dari Berita KBB, konflik berkepanjangan antara Armenia dan Azerbaijan kembali meletus pada September 2020 yang lalu.

Dua negara pecahan Uni Soviet tersebut telah berperang sejak tahun 1988. imbas perang juga berdampak pada rusaknya berbagai bangunan. Termasuk salah satunya adalah masjid bersejarah Agdam, distrik Agdam, Azerbaijan, yang malah diubah menjadi kandang babi oleh Armenia.

Masjid Agdam yang terbengkalai saat dikuasai oleh Armenia

Masjid Agdam Jami merupakan salah satu bangunan monumental keagamaan Qarabagh di abad ke-19. Masjid ini dibangun oleh arsitek Karbalayi Safikhan Qarabakhhi sejak 1868 hingga 1870 ketika Agdam menjadi pusat perdagangan penting di wilayah tersebut. Arsitektur Masjid Agdam memiliki semua fitur khas wilayah Qarabagh.

Diketahui bahwa kawasan dimana masjid tersebut diubah menjadi kandang babi telah diduduki oleh Armenia sejak 29 Oktober 1993. Namun pada 20 Oktober 2020, pasukan Azerbaijan berhasil membebaskan kawasan tersebut.

Kejadian masjid yang diubah menjadi kandang babi tersebut sempat viral di berbagai media sosial.

Di video yang sempat viral tersebut terlihat ketika tentara Azerbaijan memasuki masjid tersebut, mereka menemukan beberapa ekor babi.

Masjid Agdam yang terbengkalai saat dikuasai oleh Armenia

Sejak bentrokan baru meletus pada 27 September 2020, Armenia yang didukung oleh pihak Rusia terus melakukan serangan terhadap warga sipil dan pasukan Azerbaijan.

Sejak 10 Oktober, Armenia telah melanggar dua gencatan senjata kemanusiaan di Upper Karabakh, atau Nagorno-Karabakh, wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional.

Sekitar 20 persen wilayah Azerbaijan berada di bawah pendudukan ilegal Armenia selama hampir tiga dekade.

Trailer Film “Layla Majnun” (2020)

Acha Septriasa & Reza Rahadian di film “Layla Majnun” (2020)

“Layla Majnun” (2020), film drama reliji produksi StarVision yang mengambil lokasi syuting di Azerbaijan.

Film ini dibintangi oleh: Acha Septriasa, Reza Rahadian, Baim Wong, Dian Nitami, Beby Tsabina, Uli Herdinansyah, Natasha Rizky, Eriska Rein, Landung Simatupang, August Melasz, Chantiq Schagerl, Cut Ashifa, Aida Cabieva, Murad Ismayil, Nadia Arina, & Augie Fantinus.

“Layla Majnun” akan tayang di bioskop-bioskop tahun depan. Tonton video trailer-nya di bawah ini.

Mari Mengenal Azerbaijan Lebih Dekat

kota Baku, Azerbaijan (foto: Osservatorio Balcani)

MTN, Jakarta – Tentu masih banyak di antara kita yang masih awam dengan negara Azerbaijan. Muslim Travel News akan coba mengenalkannya kepada anda semua melalui wawancara dengan Duta Besarnya untuk Indonesia.

Jalal Sabir Mirzayev adalah Duta Besar Republik Azerbaijan terbaru untuk Indonesia, yang mulai bekerja per September 2019. Pada 11 Desember kemarin MTN mewawancarai Mirzayev seputar Azerbaijan.

“98% populasi warga di Azerbaijan adalah beragama Islam, dan kami memiliki banyak masjid, restoran halal, dan hotel halal,” terang Mirzayev di Jakarta (11/12).

“Islam Syiah adalah mayoritas di negara kami, meskipun begitu tidak ada masalah dengan Islam Sunni,” tambahnya.

Dubes Azerbaijan untuk Indonesia tersebut juga menjelaskan kalau ada sekira lima sampai enam juta wisatawan ke Azerbaijan tiap tahunnya.

Mirzayev mengatakan kalau Azerbaijan dikenal sebagai Paris-nya wilayah Kaukasus / Asia Tengah,” ungkap Mirzayev, karena banyak bangunan di ibu kota Baku memiliki gaya arsitektural ala kota Paris.

“Pada 28 April 2019 kemarin di Sirkuit Kota Baku di Baku, Azerbaijan, digelar event akbar lomba balap motor Formula Satu, Grand Prix Azerbaijan 2019,” ungkap Mirzayev.

“Kemudian pada 29 Mei 2019 kemarin di Olympic Stadium di Baku, Azerbaijan, juga digelar pertandingan sepak bola final Liga Eropa 2019, antara Chelsea melawan Arsenal,” tambah Dubes Azerbaijan untuk Indonesia tersebut.

Pemandangan alam Azerbaijan (foto: Wikimedia)

Untuk bahasa, Jalal Mirzayev menjelaskan kalau bahasa di negaranya adalah Azeri, lalu ada juga yang menggunakan bahasa Rusia dan Turki.

Tanah di ibu kota Azerbaijan mengandung banyak minyak, tapi selain minyak mereka juga mengimpor banyak jenis SDA. “Kami juga mengimpor kayu, bahan-bahan kimia dan besi sebagai suku cadang,” jelas Mirzayev.

Di bidang pendidikan, Jalal Mirzayev menjelaskan kalau 54 buah universitas di Azerbaijan yang semuanya menawarkan program beasiswa untuk mahasiswa asing.

Ketika MTN menanyakan kapan waktu terbaik untuk mengunjungi Azerbaijan adalah pada bulan Mei, Juni hingga September, karena iklim sedang bagus-bagusnya.

“Untuk zona iklim, Azerbaijan memiliki sembilan iklim. Ini karena faktor geografis Azerbaijan yang berada di tengah-tengah berbagai zona iklim Bumi,” ungkap Mirzayev.

“Karena ada wilayah Azerbaijan yang iklimnya sub-tropis, maka negara kami juga menghasilkan buah-buahan sama seperti di negara wilayah tropis,” terang Dubes Azerbaijan untuk RI tersebut.

MTN ketika mengunjungi Kedubes Azerbaijan

Mengenal Jalal Mirzayev, Dubes Azerbaijan untuk RI

Jalal Sabir Mirzayev

MTN, Jakarta – Per bulan September 2019 kemarin pihak Republik Azerbaijan menunjuk Duta Besar terbaru mereka untuk Indonesia. Siapakah dia?

Jalal Sabir Mirzayev adalah Duta Besar Republik Azerbaijan terbaru untuk Indonesia, yang mulai bekerja per September 2019.

Mirzayev lahir di kota Masally, Azerbaijan, pada 17 Oktober 1977. Mirzayev muda mulai duduk di bangku perkuliahan per tahun 1993, dengan jurusan Bachelor of Arts in International Relations di Baku State University, yang kemudian dilanjutkan mengambil Master of Arts in International Relations, juga di Baku State University.

Pada tahun 1999 hingga 2001 Jalal Mirzayev bekerja sebagai Desk officer dan Atase di Department of International Organizations Ministry of Foreign Affairs, of the Republic of Azerbaijan.

Dilanjutkan pada tahun 2001 hingga 2003 Jalal Mirzayev menjabat sebagai Third and Second Secretary, Permanent Representation of the Republic of Azerbaijan untuk PBB, New York.

Kemudian pada tahun 2003 hingga 2005 Jalal Mirzayev menjabat sebagai Second Secretary, Perwakilan Republik Azerbaijan untuk NATO, Brussels, Belgia.

Lalu pada tahun 2005 hingga 2007 Mirzayev menjabat sebagai First Secretary, Department of Security Issues, and First Territorial (West) Department, Minsitry of Foreign Affairs of the Republic of Azerbaijan.

2007 hingga 2009, Jalal Mirzayev pindah menjabat sebagai First Secretary, Embassy of the Republic of Azerbaijan untuk Malaysia.

Pada tahun 2009 hingga 2011, Jalal Mirzayev menjabat sebagai Head, I European division (Great Britain and Nordic countries), First Territorial (West) Department, Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Azerbaijan.

Kurun waktu 2011-2015, Jalal Mirzayev menjabat sebagai Counsellor, Permanent representation of the Republic of Azerbaijan to the Council of Europe, Stasburg.

Lanjut pada tahun 2015 hingga 2017, Mirzayev menduduki posisi sebagai Deputy Head, Department of Americas, Minsitry of Foreign Affairs of the Republic of Azerbaijan.

Tahun 2017 hingga 2019 Jalal Mirzayev menjabat sebagai Charge d’affaires of the Republic of Azerbaijan to the Kingdom of the Netherlands.

Akhirnya sejak akhir 2019 Mirzayev menjabat sebagai Ambassador of the Republic of Azerbaijan to the Republic of Indonesia.

Penghargaan yang pernah diraih oleh Jalal Mirzayev antara lain adalah 90th Anniversary Medal of Minsitry, of Foreign Affairs of the Republic of Azerbaijan.

Selain itu, Jalal Mirzayev juga menguasai tiga buah bahasa, yakni Inggris, Perancis dan Rusia.