Potensi Besar Wisata Halal Bagi Umat Muslim

ilustrasi (foto: Kumparan)

MTN, Jakarta – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, menyampaikan umat Muslim memiliki peluang besar untuk mengembangkan pariwisata halal.

Dilansir dari Republika, Sandiaga mengatakan, pariwisata halal selain memiliki pasar yang bagus, juga prospektif.

“Wisata ini juga melibatkan banyak rumah tangga umat Muslim. Itu yang menjadi pertimbangan. Maka sekali lagi, salah satu agenda peningkatan ekonomi umat adalah wisata halal, karena melibatkan rumah tangga umat,” ujar Sandiaga, saat menghadiri acara Dinamiku Darul Hikam bertajuk ‘Program dan Agenda Umat Islam Menuju Indonesia Emas 2045’ secara daring pada awal pekan lalu (24/4).

Sandiaga melanjutkan, pemerintah telah berkomitmen untuk mendukung pariwisata halal dengan mulai membangun berbagai infrastruktur. “Karena ini adalah ekonomi kerakyatan. Orang menjual, bukan hanya menjual dagangannya, tetapi juga menjual tempat tinggalnya dengan disewakan, dan menjual produk-produk lainnya,” tuturnya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, KH Asrorun Ni’am Sholeh menyampaikan, umat Muslim dituntut untuk mengokohkan pondasi kehidupan yang memiliki nilai kebaikan. Dalam setiap situasi dan kondisi, nilai kebaikan ini tidak boleh larut dalam perubahan yang terjadi.

“Ini perlu dikokohkan agar ada pijakan sehingga kita tidak menjadi buih yang diterjang oleh ombak perubahan. Dan pondasi ini tentunya adalah agama kita, di mana hukum Islam ini tidak lekang oleh waktu dan tempat,” ungkanya.

Kiai Asrorun juga mengingatkan untuk terus melakukan upaya perbaikan terus-menerus. Dia menjelaskan, faktor yang memicu perubahan saat ini ialah teknologi dan informasi. Penguasaan keduanya didominasi oleh belahan dunia maju yang rata-rata bukan dari dunia Muslim.

Namun, Kiai Asrorun mengatakan, teknologi dan informasi itu tetap diperlukan dengan beradaptasi terhadap perubahan tersebut. “Adaptasi agar ketika ada perubahan kita tetap memiliki identitas keislaman dan juga identitas budaya,” tuturnya.

Kiai Asrorun melanjutkan, dinamika perkembangan teknologi memang sangat cepat tetapi bisa dioptimalisasi untuk memudahkan umat Muslim melaksanakan ibadah. Misalnya dalam menentukan awal Ramadhan, menunaikan zakat, berinfak, dan lainnya. “Berinfak, kalau dulu manual, meletakkan kotak di masjid, tetapi sekarang muncul platform alternatif yang memungkinkan jangkuan lebih luas,” pungkasnya.

“Bangkitkan Perekonomian Indonesia via Wisata Halal”

acara webinar Masjid Salman ITB dengan Menparekraf (gambar: itb.ac.id)

MTN, Jakarta – Menparekraf menyatakan sekarang merupakan waktu untuk membangkitkan perekonomian Indonesia, salah satunya adalah lewat pariwisata halal. Seperti apa?

“Sekarang merupakan waktu untuk membangkitkan perekonomian Indonesia, salah satunya adalah lewat pariwisata halal dengan pasar utama di dalam negeri sendiri, salah satunya adalah kepada peserta umroh dengan jumlah 7000 setiap harinya, akan dibuat konsep travel pattern, sehingga sebelum keberangkatannya, mereka bisa mengunjungi destinasi wisata halal, diharapkan kita juga bisa mengembangkan post umroh,” ujar Sandiaga Uno di acara webinar Masjid Salman ITB dengan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno dan Ir. Budi Faisal, Ph.D., tengah bulan ini (16/4).

Dilansir dari situs itb.ac.id, menteri yang akrab disapa Sandi itu mengatakan, sektor pariwisata merupakan sektor yang sangat potensial, sebelum pandemi, pada tahun 2018 Indonesia menempati peringkat sembilan sebagai negara dengan pertumbuhan sektor pariwisata tercepat di dunia, nomor tiga di Asia dan nomor satu di Asia Tenggara.

Menurut Menparekraf, konsep pariwisata halal juga harus bertransformasi bagaimana kita bisa menghadirkan jenis wisata yang mengedepankan kesehatan dan keselamatan.

Terdapat beberapa pembagian kebutuhan dalam terselanggaranya wisata halal, yang pertama adalah need to have atau harus dimiliki seperti makanan halal dan fasilitas ibadah, kedua adalah good to have seperti pelayanan Ramadan dan local muslim experience, dan ketiga nice to have seperti fasilitas rekreasi dengan privasi dan ramah muslim.

Menurut data, yang dijelaskan oleh Sandi, pariwisata halal dan ramah muslim memiliki jumlah pasar yang cukup besar, dilihat pada tahun 2019 pengeluaran wisata muslim dunia mencapai 12% pengeluaran wisatawan global. Indonesia menempati peringkat kelima sebagai negara dengan wisatawan muslim (spending outbound muslim travel countries). Pariwisata halal tentunya bukan zonasi, lokalisasi, atau mensyariahkan tempat wisata namun kebijakan pengembangan wisata ramah muslim yang mengedepankan suatu kebermanfaatan kepada substansi yang menyediakan layanan family muslim friendly seperti makanan, penginapan, dan transportasi yang halal.

“Negara-negara lain sudah mengembangkan hal ini dengan antusias yang tinggi oleh karena itu Kemenparekraf mendorong tiga strategi utama dalam pengembangan pariwisata ramah muslim, yaitu inovasi, adaptasi, dan kolaborasi,” pungkas Sandi.

Kamboja Targetkan Dua Miiar Konsumen Muslim via Wisata Halal

ilustrasi (gambar: law-justice.co)

MTN, Jakarta – Kamboja targetkan dua miliar konsumen muslim melalui industri wisata halal di negaranya.

Dilansir dari Tribun News, kabar ini disampaikan oleh Duta Besar RI untuk Kerajaan Kamboja, Sudirman Haseng, yang belum lama ini membuka Workshop ‘Dasar-Dasar Wisata Halal untuk para Pejabat Kementerian Pariwisata Kamboja’, pekan lalu (23/4).

Perwakilan Indonesia di acara ini berkesempatan untuk memberikan dasar-dasar pengetahuan tentang wisata halal kepada Kementerian Pariwisata Kamboja.

Sudirman menyatakan bahwa menurut laporan The State of Global Islamic Report 2020/2021, muslim dunia membelanjakan USD2,02 triliun untuk makanan, obat-obatan, kosmetika, fesyen, perjalanan, dan media/rekreasi, yang sesuai dengan kebutuhan konsumsi yang berlandaskan pada ajaran Islam, pada tahun 2019.

“Jika Kamboja dapat memenuhi kebutuhan produk dan jasa untuk pelancong Muslim dan konsumen Muslim, maka dapat dipastikan bahwa sekira 237,53 juta penduduk Muslim Indonesia akan jadi calon konsumen produk-produk Kamboja,” ujar Sudirman Haseng dalam keterangan resminya, awal pekan ini (26/4).

Koordinator Kerja Sama dan Standardisasi Halal BPJPH Kemenag RI, Fertiana Santy, menyampaikan bahwa halal bukan hanya serta merta tentang agama atau peraturannya.

Halal juga menyangkut mereka yang perhatian dengan metode halal dan gaya hidup sehat.

Menurutnya, halal juga menyangkut keamanan, kebersihan, keberlanjutan, dan integritas yang merupakan kunci masyarakat madani modern dan standar global jaminan kualitas.

Jaminan terkait halal saat ini merupakan wewenang BPJPH setelah sebelumnya merupakan wewenang dari MUI.

Workshop yang disampaikan perwakilan dari Indonesia ini diharapkan juga sekaligus membuka jalan masuknya produk halal Indonesia ke Kamboja.

Workshop diarahkan untuk menjadi peluang promosi produk-produk halal Indonesia baik barang maupun jasa seperti ekspor produk halal Indonesia, gaya hidup halal, sertifikasi dan standarisasi halal yang diakui di berbagai negara.

Selain itu, workshop ini merupakan implementasi dari Perjanjian Kerja Sama Ekonomi dan Teknik RI-Kamboja yang ditandatangani tahun 1994 di Jakarta dan Memorandum Kesepahaman Bidang Pariwisata yang ditandatangani di sela-sela ASEAN Tourism Forum pada Januari 2022 untuk membantu peningkatan sumber daya manusia Kamboja di bidang pariwisata.

Kementerian Pariwisata Kamboja tengah mempersiapkan diri menyambut wisatawan asing pasca pandemi dan menerapkan rencana pemulihan pembangunan wisata tahun 2021-2025.

“Workshop berfokus pada pendidikan dan pelatihan keahlian yang berkualitas sesuai standar dalam dan luar negeri untuk merespon kebutuhan lapangan kerja di sektor pariwisata,” kata Undersecretary of State Kementerian Pariwisata Kamboja, Katoeu Muhammad Nossry.

Menparekraf Dukung Pengembangan Wisata Halal di Bangkalan

Sandiaga Uno (foto: Antara News)

MTN, Jakarta – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sandiaga Salahuddin Uno, menyatakan dukungannya untuk pengembangan kawasan wisata halal di Bangkalan, Jawa Timur.

Dilansir dari CNN Indonesia, dukungan ini merupakan salah satu upaya untuk membangkitkan ekonomi dan membuka peluang usaha pascapandemi.

Sandiaga menyebutkan bahwa Bangkalan sendiri sudah punya modal infrastruktur pendukung wisata halal secara holistik. Dia mencontohkan salah satunya yakni nanti akan dibangun Islamic Science Park.

“Saya juga mengucapkan terimakasih kepada UTM yang telah menggelar diskusi tentang pariwisata halal yang akan dikembangkan di Bangkalan. Kami yakin pariwisata halal ini akan membangkitkan ekonomi di Madura Raya, dan membuka peluang usaha di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” ujar Sandiaga saat berdiskusi dengan civitas akademika dan pelaku parekraf di Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Bangkalan, Jawa Timur, awal bulan ini (1/4).

Menparekraf juga menjelaskan bahwa wisata halal juga telah menarik devisa dari moslem traveler dengan optimal.

Data State of The Global Islamic Economy Report 2019 menyebutkan, jumlah pengeluaran wisatawan muslim dunia mencapai US$200,3 miliar atau sebesar 12 persen dari total pengeluaran wisatawan global yang mencapai US$1,66 triliun.

“Dengan demikian, Indonesia berada di urutan kelima dari ‘Top 5 Negara Muslim Traveler’ dengan pengeluaran terbesar setelah Saudi Arabia, UAE, Qatar, dan Kuwait,” pungkas Sandiaga.

Tiga Konsep yang Harus Dimiliki oleh Wisata Halal di Indonesia

ilustrasi (gambar: Kompasiana)

MTN, Jakarta – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, mengatakan kalau ada tiga konsep besar yang harus dimiliki oleh wisata halal di Indonesia. Apa saja?

Dilansir dari Kompas, Menparekraf Sandiaga Uno mengatakan, ada cukup banyak potensi wisata halal yang bisa dikembangkan di Indonesia. Namun ada tiga konsep besar yang harus dimiliki oleh wisata berbasis religi.

Pernyataan tersebut disampaikan Menparekraf saat kegiatan Weekly Press Briefing secara virtual, awal bulan ini (4/4).

Menparekraf juga menjelaskan, konsep wisata halal berfokus pada extension of service (perluasan layanan) dengan mengusung tiga konsep.

“Akan kami pastikan persiapan konsep extension of service, sebagai bagian dari perluasan konsep wisata halal, yaitu need to have atau must have, good to have, dan nice to have,” katanya.

Ketiganya memiliki arti masing-masing. Need to have artinya sebuah destinasi mempunyai fasilitas tempat ibadah yang layak, hingga makanan yang halal.

Lalu, good to have memiliki tujuan agar wisatawan memperoleh pengalaman yang berkesan serta berbeda. Sedangkan, nice to have adalah wisata halal di Indonesia harus mampu bersaing dengan negara lain.

“Wisata halal adalah tambahan layanan atau extended services. Ada tiga kategori layanan yang pertama harus ada adalah makanan halal, tempat ibadah, water friendly washroom, dan no Islamphobia. Kemudian, good to have dan nice to have,” Sandiaga menambahkan.

Lebih lanjut, menurutnya, konsep tersebut dijabarkan pada lima komponen penting pariwisata, seperti hotel halal, transportasi halal, makanan halal, paket tur halal, dan keuangan halal.

Menparekraf juga menjelaskan wisata halal juga telah menarik devisa dari wisatawan muslim dengan optimal.

Data State of The Global Islamic Economy Report 2019 menyebutkan, jumlah pengeluaran wisatawan muslim dunia sebesar 200,3 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau 12 persen dari total pengeluaran wisatawan global sebesar 1,66 triliun dolar AS.

“Indonesia berada di urutan ke-5 dari “TOP 5 Negara Muslim Traveler” dengan pengeluaran terbesar setelah Saudi Arabia, UEA (Uni Emirat Arab), Qatar, dan Kuwait,” pungkas Sandiaga.

Istiqlal Halal Expo 2022 Turut Dukung UMKM Lokal

MTN, Jakarta – Istiqlal Halal Expo 2022 digelar pada 15-24 April 2022 dan turut mendukung UMKM (usaha mikro kelas menengah) lokal.

Dilansir dari Tribun News, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahudin Uno, pada Minggu (17/4/2022), mengunjungi Istiqlal Halal Expo 2022 di Pelataran Masjid Istiqlal.

Sandiaga Uno juga mengunjungi beberapa booth para UMKM yang ikut serta dalam Istiqlal Halal Expo 2022.

Menurut Sandiaga Uno, adanya Istiqlal Halal Expo 2022 dapat memberikan dukungan kepada para pelaku UMKM.

“Selain itu Istiqlal Halal Expo 2022 juga dapat menjadi tempat wisata saat bulan Ramadan dan menjadi wisata halal,” kata Sandiaga Uno, Minggu (17/4).

Ia juga mengungkapkan, dengan adanya Istiqlal Halal Expo 2022 ini para pelaku UMKM yang ikut serta dapat meningkatkan pendapatannya hingga sebesar 20-30 persen.

“Dengan adanya expo seperti ini, tentunya dapat menjadi persiapan kebangkitan ekonomi kita dan menjadi awal baru untuk terus maju,” ujar Sandiaga Uno.

Istiqlal Halal Expo 2022 dari tanggal 15-24 April 2022 sebagai bagian dari milad ke-44 sekaligus menyemarakkan bulan Ramadan.

Konsumsi Pariwisata Halal Global Diprediksi Tumbuh 50% pada 2022

ilustrasi (gambar: halalmui.org)

MTN, Jakarta – Angka konsumsi pariwisata halal global diprediksi bakal tumbuh hingga 50 persen pada tahun 2022. Seperti apa?

Dilansir dari Republika, State of Global Islamic Economy Report 2021 melaporkan, konsumsi Muslim untuk pariwisata meningkat dari 58 miliar dolar AS ke 102 miliar dolar AS pada tahun 2021. Sektor ini diharapkan tumbuh sebesar 50,0 persen pada tahun 2022 menjadi 154 miliar dolar AS.

CEO dan Managing Partner di DinarStandard, Rafi-uddin Shikoh, mengatakan kalau ekonomi Islam telah pulih dengan cepat dari pandemi Covid-19. Sejumlah disrupsi juga membawa peluang dalam akselerasi digital dan investasi.

“Di sektor pariwisata halal, perjalanan dan pariwisata global telah mulai pulih dengan beberapa acara besar seperti Olimpiade Tokyo, Dubai Expo 2020, untuk investasi di sektor ini juga terus meningkat,” kata Rafi-uddin saat peluncuran SGIE (State of the Global Islamic Economy) 2021.

Industri pariwisata ramah muslim mengalami penurunan hingga 70 persen pada 2020. Angka penurunan perjalanan terjadi hingga satu miliar pelancong. Sementara acara yang ditunda pada tahun 2020 diadakan setahun kemudian, seperti Olimpiade Tokyo yang juga tidak menerima penonton.

Hal ini menyebabkan pukulan berat bagi pelaku industri termasuk di sektor lain yakni makanan halal yang dijajakan resto-resto halal seluruh dunia.

Selain itu, haji dan umrah juga menurun drastis pada 2020 karena pembatasan. Saat ini, umrah kembali bisa digelar, kemungkinan juga haji.

“Intervensi pemerintah dari berbagai negara membuat sektor ini tetap bisa bertahan, investasi tetap berlanjut dengan harapan rebound di tahun-tahun mendatang,” kata dia.

Dubai Uni Emirate Arab telah membuat keputusan berani untuk melanjutkan EXPO 2020 Dubai yang diselenggarakan pada tahun 2021. Sementara Arab Saudi terus berinvestasi di bidang pariwisata, karena mendiversifikasi ekonominya sebagai bagian dari visi strategi 2030.

Dengan banyak negara yang masih memberlakukan pembatasan perjalanan yang ketat, pemulihan industri pariwisata tetap lambat. Meski demikian sisi investasi masih berjalan signifikan dari transaksi sejumlah modal ventura yang sebagian besar terkait dengan solusi digitalisasi sekitar 1,26 miliar dolar AS.

Dalam SGIE, urutan peringkat untuk industri pariwisata halal global adalah Malaysia, Singapura, Turki, Bahrain, Uni Emirate Arab, Tunisia, Saudi Arabua, Kuwait, Kazakhstan, dan Maroko. Malaysia memiliki score 19, Uni Emirate Arab sebesar 78,6, Kazakhstan 60,8 dan Indonesia sendiri sebesar 58,0.

Pelaku Industri Halal Siap Aktifkan Kembali Dunia Wisata

MTN, Jakarta – Para pelaku usaha indutri halal menyatakan siap untuk mengaktifkan kembali dunia wisata. Seperti apa?

Dilansir dari Republika, Ketua Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI), Riyanto Sofyan, menyampaikan kalau pelaku usaha telah siap untuk menerima aktivitas wisata kembali.

“Kita tentu selalu siap karena kita juga ingin hidup kembali,” kata Riyanto akhir pekan lalu (3/4).

Riyanto menilai, kebijakan pelonggaran wisata di Indonesia saat ini sudah lebih baik dibandingkan penerapan pada tahun lalu. Dia menyoroti, ketika Bali dibuka untuk wisatawan asing, sejumlah kesiapan belum terintegrasi, seperti layanan imigrasi hingga maskapai.

Pembukaan perbatasan pun tidak berdampak langsung pada pemulihan sektor pariwisata. Dia mencontohkan, Turki membuka perbatasan dan melakukan integrasi di seluruh pemangku kepentingan mulai dari pemerintah hingga pelaku industri.

Hal ini menyebabkan sektor pariwisata halal di Turki dapat kembali pulih. “Harus sinkron antara kebijakan dengan implementasi di lapangan,” kata Riyanto.

Riyanto mengatakan, pemulihan pariwisata tidak akan optimal apabila pembukaan perbatasan tidak sejalan dengan suplai penerbangan dan layanan imigrasi. Ia menilai, hal itu sempat terjadi di Thailand ketika membuka perbatasannya.

“Wisatawan bisa masuk dan penerbangan terus tersedia, namun restoran ditutup, tidak ada atraksi, dan sejumlah amenities tidak siap,” ujarnya.

PPHI juga menyoroti peringkat Indonesia yang terjun bebas dari sektor wisata halal dalam laporan State of Global Islamic Economy (SGIE) 2022. Menurut Riyanto, hal itu disebabkan Indonesia tidak bisa memenuhi standar penilaian, seperti keberadaan regulasi terkait wisata halal, jumlah pelaku usaha wisata halal yang tersertifikasi, serta peliputan atau informasi media terkait wisata halal.

Riyanto mengatakan, Indonesia sempat memiliki fokus untuk mengangkat wisata halal dengan membentuk divisi khusus pengembangan seperti Malaysia. Indonesia juga dulu sempat aktif dalam berbagai ajang wisata halal global.

Pandemi Covid-19 telah menekan industri pariwisata global termasuk segmen wisata ramah Muslim. Meski begitu, pada 2021, pariwisata ramah Muslim mulai menggeliat setelah mengalami kemunduran tajam pada 2020.

SGIE 2022 melaporkan, konsumsi Muslim untuk pariwisata meningkat dari 58 miliar dolar AS ke 102 miliar dolar AS pada 2021. Sektor ini diharapkan tumbuh sebesar 50 persen pada 2022 menjadi 154 miliar dolar AS.

CEO dan Managing Partner Dinar Standard, Rafiuddin Shikoh, mengatakan, ekonomi Islam telah pulih dengan cepat dari pandemi Covid-19. Sejumlah disrupsi juga membawa peluang dalam akselerasi digital dan investasi.

“Di sektor pariwisata halal, perjalanan dan pariwisata global telah mulai pulih dengan beberapa acara besar, seperti Olimpiade Tokyo dan Dubai Expo 2020. Investasi di sektor ini juga terus meningkat,” kata Shikoh.

Industri pariwisata ramah Muslim mengalami penurunan hingga 70 persen pada 2020. Penurunan perjalanan terjadi hingga satu miliar pelancong. Hal ini menyebabkan pukulan berat bagi pelaku industri termasuk di sektor makanan halal yang dijajakan restoran halal di seluruh dunia. Selain itu, perjalanan haji dan umrah juga menurun drastis pada 2020 karena pembatasan.

Pemkot Bogor Ajak IPB Desain Kawasan Agrowisata Halal di Rancamaya

ilustrasi (foto: liputanoke.com)

MTN, Jakarta – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mengajak Institut Pertanian Bogor untuk menggarap desain tata ruang kawasan agrowisata halal di kawasan Kelurahan Rancamaya, Kecamatan Bogor Selatan.

Dilansir dari westjavatoday.com, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor, Syarifah Sofiah, mengatakan kalau luas lahan kawasan agrowisata tersebut lebih kurang sembilan hektar. Sebagian di antaranya sudah digunakan, termasuk kepentingan Perumda Tirta Pakuan.

“Ada beberapa juga yang kita rencanakan menjadi kebun durian dan kopi,” ujar Syarifah, pada Sabtu (26/3).

Menurut Syarifah, Pemkot Bogor tertarik dengan konsep IPB University yang telah dipaparkan di hadapan Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto, karena membuat UMKM ‘halal food’ atau semacam ‘smart halal food center’.

Apalagi masterplan kawasan agrowisata halal sinergi dengan kebijakan Pemkot Bogor yang sejak tahun 2010 telah menerbitkan Perwali Kota Halal. Oleh karena itu, kerja sama pun diwujudkan secara resmi melalui penandatanganan kerja sama dengan IPB University pada Jumat (25/3).

Penandatanganan dilakukan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor, Syarifah Sofiah dan Wakil Rektor Bidang Internasionalisasi, Kerja Sama dan Hubungan Alumni IPB University, Prof. Dodik Ridho Nurrochmat di Ruang Sidang Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PSP3 – LPPM) IPB University, Jalan Pajajaran, Kota Bogor.

Hingga saat ini Kota Bogor memiliki 68 ribu UMKM dan baru 0,06 persen yang sudah mengikuti sertifikasi halal.

“Dengan adanya kesepakatan ini semoga jadi awal yang lebih baik dalam mewujudkan Kota Bogor sebagai kota halal,” jelasnya.

Wakil Rektor Bidang Internasionalisasi, Kerja Sama dan Hubungan Alumni IPB University, Prof. Dodik Ridho Nurrochmat mengatakan, merasa senang mendapat kepercayaan dari Pemkot Bogor untuk bersama-sama membuat masterplan kawasan agrowisata halal.

Dari masterplan tersebut, menurut dia, ada dua hal yakni masterplan wisata halal yang diharapkan betul-betul fungsional, tidak hanya gambar yang indah, tetapi bisa dimanfaatkan untuk perkembangan agrowisata halal.

Selain itu tidak hanya dari segi arsitektur, aksesibilitas dan sosial ekonomi akan diperhatikan.

“Melihat potensi pasar dan pengalaman, kami yakin rencana ini memiliki dampak yang positif,” pungkas Dodik.

MUI Apresiasi Konsep Wisata Halal dari Disbudpar Sulsel

ilustrasi (foto: Cheria Holiday)

MTN, Jakarta – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengapresiasi konsep Wisata Halal dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel. Seperti apa?

“Konsep wisata halal ini sangat cocok dengan kultur Sulsel karena memiliki kebudayaan yang Islami,” ujar Sekertaris Komisi Pembinaan Seni dan Budaya Islam, Fihris Khalid SS MA PhD, saat menghadiri Focus Group Discussion (FGD) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Hotel Almadera Jalan Somba Opu Makassar, Rabu (23/3).

Dilansir dari MUI, Menurut Fihris, wisata halal menjadi angin segar bagi MUI Sulsel untuk berperan untuk memberikan kontribusi pemikiran kepada pemerintah. Saat ini wisata halal sudah banyak digemari oleh umat non muslim karena faktor kebersihan yang terjamin.

“MUI juga telah menetapkan Fatwa Nomor 108 tentang pariwisata berbasis syariah. Kita akan merujuk pada Fatwa MUI untuk menilai apakah program ini sesuai syariah atau tidak,” imbuhnya.

Sementara itu Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata Sulsel, Patarai A Burhang GS SSos MM, juga menyampaikan harapannya agar peran MUI bisa memberi sumbangsih pemikiran bagi pengembangan program wisata halal.

“Program wisata halal menjadi salah satu program unggulan Pemprov Sulsel saat ini. Wisata halal juga mempunyai dampak positif selain karena potensi besar di Sulsel yang beragama mayoritas Islam.

Hadir sebagai pemateri pada FGD tersebut, DR H Syamsu Rijal M Pd CHE (Dosen Poltekpar Makassar), Assoc Prof DR IR H Muhamad Nusran MM Phd IPM ASEAN Eng (Direktur Halal Industri Development Institusi Sulsel) dan Nasrullah Karim (Ketua PHRI Sulsel).