Masjid di Surakarta ini Suplai Tujuh Ribu Paket Takjil Tiap Harinya Selama Ramadhan

Masjid Raya Sheikh Zayed Surakarta (foto: setda.surakarta.go.id)

MTN, Surakarta – Sebuah masjid di Surakarta menyetok tujuh ribu paket takjil tiap harinya selama bulan Ramadhan. Masjid apakah itu?

Dilansir dari Era Kini, Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, Jawa Tengah, membagikan 7.000 paket takjil setiap hari selama Ramadan 1447 Hijriah/2026. Ribuan paket tersebut disiapkan untuk jemaah yang berbuka puasa bersama di kawasan masjid.

Direktur Operasional Masjid Raya Sheikh Zayed, Munajat, mengatakan panitia menyediakan makanan lengkap untuk berbuka puasa.

“Ada 7.000 paket. Mulai dari makanan berat yakni nasi dan sayur, ada buahnya juga, ada lauk utama dan lauk pendamping,” ujar Munajat, Kamis (26/2/2026).

Selain makanan utama, panitia juga menyiapkan takjil dengan variasi yang beragam. Selama Ramadan tahun ini, sedikitnya 15 jenis lauk pauk berbeda disajikan setiap hari secara bergantian.

Tak hanya itu, lebih dari 30 variasi takjil turut dihidangkan, mulai dari aneka makanan ringan, bubur, es buah, hingga kolak. Jemaah juga difasilitasi tenda khusus untuk berbuka puasa bersama guna menampung jumlah pengunjung yang meningkat selama bulan suci.

Masjid Raya Sheikh Zayed Surakarta menjadi salah satu ikon religi baru di Kota Solo. Masjid megah yang berdiri di kawasan Gilingan ini merupakan replika dari masjid Sheikh Zayed Grand Mosque di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA).

Masjid tersebut merupakan hibah dari Pemerintah UEA kepada Pemerintah Indonesia sebagai simbol persahabatan kedua negara. Pembangunannya dimulai pada 2021 dan diresmikan pada 14 November 2022 oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo bersama Presiden UEA Mohamed bin Zayed Al Nahyan.

Secara administratif, masjid ini dikelola secara profesional dengan dukungan Kementerian Agama (Kemenag) RI. Wakil Presiden ke-13 RI Ma’ruf Amin meresmikan operasionalisasi masjid pada 28 Februari 2023.

Masjid yang dibangun di atas lahan sekitar 3,6 hektare itu menelan biaya sekitar 20 juta dollar AS atau setara Rp300 miliar. Pembangunan masjid ini disebut sebagai simbol eratnya hubungan bilateral Indonesia dan UEA.

Sheikh Mohamed bin Zayed disebut menghadiahkan masjid tersebut kepada Presiden Jokowi sebagai wujud persahabatan kedua negara.

Sebelum menjadi masjid, lokasi tersebut merupakan bekas depo BBM Pertamina Gilingan yang ditutup pada 2008 setelah operasional distribusi dipindahkan ke Boyolali.

Pada 2019, rencana pembangunan masjid mulai mencuat setelah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi saat itu, Luhut Binsar Pandjaitan, mengungkap adanya komitmen UEA untuk membangun masjid di Solo.

Proyek pembangunan kemudian melibatkan firma arsitektur Arkonin dan Airmas Asri, dengan konstruksi dikerjakan oleh BUMN karya Waskita Karya.

Secara arsitektur, masjid ini mengadopsi gaya Timur Tengah dengan sentuhan Maroko dan Asia Selatan. Meski menjadi replika dari Sheikh Zayed Grand Mosque di Abu Dhabi, ukurannya lebih kecil.

Jika masjid asli berdiri di atas lahan sekitar 12 hektare, Masjid Sheikh Zayed Solo memiliki luas sekitar 2,7 hektare atau sekitar 22,5 persen dari ukuran aslinya.

Masjid ini memiliki satu kubah utama yang dikelilingi 81 kubah kecil, sehingga total terdapat 82 kubah. Empat menara menjulang di setiap sudut bangunan utama.

Keunikan lainnya terletak pada adaptasi motif batik khas Indonesia, seperti kawung dan kembang, yang diaplikasikan pada ornamen interior maupun eksterior. Karpet bermotif batik serta kaligrafi Asmaulhusna di dinding dekat mihrab turut memperkuat nuansa lokal.

Dengan kapasitas mencapai sekitar 10.000 hingga 17.000 jemaah, masjid ini kini menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan sekaligus destinasi wisata religi baru di Solo. Kehadirannya tak hanya mempercantik wajah kota, tetapi juga menjadi simbol kolaborasi budaya dan persahabatan antara Indonesia dan Uni Emirat Arab.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *