Wisata Halal Harus Bisa Perkuat Ekonomi Lokal

ilustrasi (foto: cimbniaga.co.id)

MTN, Jakarta – Sebuah acara talk-show menyatakan bahwa Wisata Halal perlu dorong pengalaman wisata dan perkuat ekonomi lokal. Seperti apa?

Dilansir dari Kompas, pengembangan wisata halal atau pariwisata ramah Muslim di Indonesia dinilai perlu bergerak lebih jauh dari sekadar pemenuhan regulasi dan sertifikasi.

Kemudian, ekosistem wisata halal juga perlu dibangun dengan menghubungkan pengalaman wisatawan, produk lokal, serta keterlibatan masyarakat agar manfaat ekonomi dari aktivitas pariwisata dapat dirasakan lebih luas.

Hal tersebut mengemuka dalam talk show bertema “The Next Wave of Halal Tourism: From Policy to Lifestyle” di Hotel Pullman, Jakarta, Jumat (23/10).

Kegiatan tersebut adalah bagian dari rangkaian menuju Indonesia Muslim Travel Fair (IMTF) 2027 yang bakal digelar mulai 23–24 Januari 2027 di ICE BSD City.

Direktur Bisnis dan Kewirausahaan Syariah merangkap Direktur Industri Produk Halal Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Putu Rahwidhiyasa mengatakan, pengembangan wisata halal perlu menghubungkan produk halal, layanan pariwisata, dan kebutuhan wisatawan Muslim.

Menurut dia, keterhubungan tersebut dapat membuka peluang pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal.

“Keterhubungan ini diharapkan dapat membuka peluang pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal, termasuk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang bergerak di bidang kuliner, kerajinan, dan berbagai layanan pendukung perjalanan,” ujar Putu dalam siaran pers.

CEO Meraya Coki Lubis mengatakan, promosi destinasi dan peningkatan kesadaran publik belum cukup apabila kunjungan wisata tidak memberikan dampak ekonomi yang lebih merata bagi masyarakat di sekitarnya.

“Destinasi yang indah belum tentu dikenal, yang dikenal belum tentu dikunjungi, dan yang dikunjungi belum tentu memberikan dampak ekonomi yang merata,” kata Coki.

“Karena itu, kita perlu menghubungkan potensi destinasi dengan pasar, sekaligus memastikan masyarakat lokal menjadi bagian dari rantai nilai pariwisata,” lanjutnya.

Sebagai informasi, Meraya merupakan salah satu unit bisnis Badan Usaha Milik Ansor (BUMA) yang bergerak di bidang public relations.

Menurut Coki, komunikasi strategis, media, dan penyelenggaraan kegiatan dapat menjadi penghubung antara pengelola destinasi, industri perjalanan, pelaku usaha, serta masyarakat setempat.

Kolaborasi tersebut dapat membantu mengemas potensi daerah menjadi produk wisata yang memiliki akses pasar sekaligus membuka peluang transaksi bagi pelaku ekonomi lokal.

Selain memperluas pasar, Coki menilai pengembangan wisata juga perlu dilakukan dengan pendekatan dari bawah atau bottom-up.

Masyarakat di sekitar destinasi perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan dan pengembangan, bukan sekadar ditempatkan sebagai penerima manfaat setelah program berjalan.

“Ekosistem pariwisata yang kuat harus tumbuh bersama masyarakatnya. Ketika warga merasa memiliki destinasi, memahami peluang ekonominya, dan terlibat langsung dalam pengelolaannya, akan terbentuk sense of belonging yang penting bagi keberlanjutan industri,” ujarnya.

Keterlibatan tersebut dapat dilakukan dengan memasukkan UMKM, pengelola homestay, pemandu lokal, pengrajin, penyedia kuliner halal, hingga komunitas setempat ke dalam ekosistem perjalanan.

Pelaku lokal, misalnya, dapat menjadi bagian dari paket wisata maupun jaringan distribusi industri pariwisata.

Dengan cara tersebut, pengalaman wisata tidak hanya berpusat pada kunjungan ke destinasi, tetapi juga memberikan ruang bagi wisatawan untuk berinteraksi dengan produk, layanan, dan masyarakat setempat.

Pada saat yang sama, pengeluaran wisatawan berpeluang berputar lebih banyak di tingkat lokal.

Pengembangan wisata ramah Muslim sendiri semakin berkaitan dengan berbagai aspek gaya hidup, mulai dari kebutuhan makanan halal, akomodasi, layanan perjalanan, hingga produk dan layanan pendukung lainnya.

Karena itu, ekosistem yang dibangun tidak hanya melibatkan pengelola destinasi dan biro perjalanan.

IMTF 2027, dirancang mempertemukan tourism board, kedutaan besar, maskapai, biro perjalanan, pelaku hospitality, brand halal, institusi keuangan syariah, penyedia teknologi, asosiasi, hingga komunitas Muslim.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *