Ini Bentuk Dukungan BI untuk Wisata Halal di Sulawesi Tenggara

SULTRATOP.COM, KENDARI – Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tenggara dorong pariwisata halal setempat agar bisa naik kelas. Seperti apa?

Dilansir dari SultraTop, Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tenggara dorong pariwisata halal setempat agar bisa naik kelas, lewat talkshow “Travel, Halal, and Repeat”.

Upaya mendorong pariwisata halal agar semakin kompetitif terus digencarkan di Sulawesi Tenggara (Sultra). Salah satunya dilakukan Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Sultra melalui talkshow bertajuk “Travel, Halal, and Repeat” yang digelar di Lippo Plaza Kendari, Jumat (24 April 2026).

Kegiatan yang menjadi bagian dari Sultra Maimo Sharia Fest dalam rangka HUT ke-62 Sultra ini menjadi ruang diskusi yang menghubungkan ide, tren, dan peluang pengembangan sektor pariwisata halal.

Talkshow tersebut menghadirkan beragam perspektif, mulai dari regulator hingga pelaku industri kreatif. Empat narasumber dihadirkan untuk mengulas arah pengembangan wisata halal di tengah perubahan perilaku wisatawan.

Perwakilan Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI, Annisa Elma Nabila, menegaskan bahwa peran generasi muda menjadi kunci dalam memperkuat posisi Indonesia dalam Indonesia Muslim Travel Index (IMTI).

Annisa menilai, potensi besar yang dimiliki daerah seperti Sultra harus dioptimalkan agar tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga pemain utama dalam industri halal global.

“Kesempatan ini terbuka lebar. Peran pemuda sangat dibutuhkan agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar, tetapi mampu memimpin sektor wisata muslim dunia,” ujarnya.

Dari sisi penguatan ekosistem, Manager Eksekutif KDEKS Sultra, Prof Samdin menekankan pentingnya menghadirkan destinasi yang ramah bagi wisatawan muslim. Ia mengingatkan bahwa kebutuhan rekreasi harus tetap berjalan seiring dengan nilai spiritual.

“Wisata itu kebutuhan, tapi tetap harus selaras dengan nilai-nilai keislaman. Di situlah konsep wisata halal menjadi penting,” jelas Prof Samdin.

Sementara itu, konten kreator Indira melihat tren wisata dari sudut pandang pengalaman pengguna. Ia menyebut, wisatawan saat ini mencari kombinasi antara pengalaman, nilai, dan kemudahan akses.

Menurutnya, konsep halal tidak membatasi ruang eksplorasi, justru memberikan rasa aman yang membuat perjalanan lebih nyaman.

“Halal travel bukan batasan. Ini cara untuk tetap relevan tanpa kehilangan identitas,” jelasnya.

Pendekatan berbeda disampaikan Bagiro yang menyoroti pentingnya kekuatan narasi digital. Ia menilai, tanpa promosi yang kuat di media sosial, potensi wisata akan sulit dikenal luas.

Bagiro menegaskan bahwa pariwisata halal sejatinya sederhana, yakni memastikan wisatawan merasa aman dalam konsumsi dan mudah dalam beribadah.

“Yang membuat orang datang bukan hanya karena tempatnya bagus, tapi karena mereka percaya. Dan kepercayaan itu dibangun dari cerita yang tersebar di media sosial,” pungkas Bagiro.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *